Turki beri sinyal bergabung dengan BRICS, karena kecewa dengan NATO dan Uni Eropa?

ANKARA (UMMAT Pos) — Turki melontarkan ide untuk bergabung dengan aliansi BRICS yang terdiri atas Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berusaha untuk menambah tingkat partisipasi kebijakan luar negerinya selain tawaran keanggotaan di Uni Eropa yang lama terhenti dan bekunya hubungan dengan AS, kata analis yang dikutip media Rusia, Russia Today.

Presiden Turki bahkan menyarankan bahwa para pemimpin negara-negara blok BRICS harus menambahkan “T” pada akronimnya.

Erdogan yang diundang ke forum terbaru kelompok itu di sela-selanya pertemuannya, kepada Hurriyet Daily News mengatakan bahwa para pemimpin anggota BRICS saat ini menyambut baik gagasan masuknya Turki.

Evgeniy Bakhrevskiy, wakil direktur dari Institut Riset Budaya dan Warisan Alam Rusia, mengatakan kepada RT bahwa poros yang jelas ini oleh Erdogan muncul dari kekecewaan yang meningkat di Turki terhadap Barat.

Erdogan “meyakini ada kebutuhan untuk mendiversifikasi kebijakan luar negeri Turki, karena ia sangat kecewa dengan struktur barat, dengan Uni Eropa; hubungan dengan AS juga tampak makin tegang,” Bakhrevskiy mencatat.

Sementara itu, Stevan Gajic, peneliti di Institut Studi Eropa di Beograd, berpendapat bahwa itu bukan pertimbangan geopolitik, tetapi “sesuatu yang sangat pribadi” yang telah mendorong Erdogan untuk mengupayakan komitmen keanggotaan baru.

Gajic percaya bahwa upaya kudeta militer yang digagalkan pada tahun 2016 dan Presiden Suriah Bashar Assad yang menang di Suriah dengan bantuan Rusia, adalah dua faktor utama yang menjadi pertimbangan Erdogan.

Ide itu juga datang pada saat impian lama Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa berada dalam kondisi tidak menguntungkan, dengan proses penerimaan yang jelas membeku. Meskipun Uni Eropa adalah mitra dagang utama Turki, Turki masih terjebak di “ruang tunggu” blok itu, sebuah situasi yang dengan sendirinya merupakan penghinaan terhadap Ankara, seperti disinggung Bakhrevskiy.

Hubungan Ankara dengan Washington juga mengalami masa sulit, dengan “sentimen anti-Amerika yang terus menguat di hampir semua lapisan masyarakat Turki,” kata Bakhrevskiy. Hal ini menurutnya karena dukungan Amerika untuk milisi Kurdi yang sering mengganggu stabilitas keamanan di Turki.

Turki memandang tulang punggung Kekuatan Demokrasi Suriah (SDF) yang didukung AS, Unit Perlindungan Rakyat (PYD) sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris/ terlarang oleh Turki.

Atas penolakannya memangkas dukungannya bagi pasukan pimpinan Kurdi, AS dipandang oleh mayoritas warga Turki sebagai bentuk “ancaman secara langsung” bagi negara mereka.

Erdogan, seperti disebut Bakhrevskiy tidak ragu untuk memanfaatkan sentimen tersebut.

“Anti-Amerikanisme kian populer, dia adalah seorang politikus, dia akan melakukan apa yang diinginkan warganya,” ujarnya.

Pada saat yang sama, hubungan Turki dengan Rusia yang sempat mencapai titik terendahnya ketika Turki merontokkan jet tempur Rusia di Suriah pada November 2015, telah kembali pulih dengan cepat dan mendapatkan momentum. Cepatnya terbangun kedekatan kembali ini adalah bukti bahwa “dua pihak benar-benar saling membutuhkan,” menurut Bakhrevskiy.

Bahkan, Rusia menyatakan dukungannya bagi Erdogan menyusul gagalnya upaya kudeta 2016, yang oleh pemerintah Turki didalangi oleh tokoh Fethullah Gülen yang saat ini berada di AS bersama rekan-rekannya di Turki.

Sementara, Turki tampaknya tidak akan meninggalkan NATO untuk alasan strategis, Bakhrevskiy menunjukkan bahwa BRICS adalah “blok yang sangat demokratis” yang tidak memerlukan “syarat” khusus seperti meninggalkan Uni Eropa atau NATO untuk bergabung.

Sementara itu, Gajic percaya bahwa Ankara bisa memanfaatkan ancaman meninggalkan NATO sebagai “chip tawar-menawar besar.” Potensi hengkangnya akan menjadi “pukulan besar” bagi aliansi yang sudah terguncang oleh tuntutan konstan Presiden AS Donald Trump bahwa anggota Eropa membayar lebih untuk pemeliharaan mahal blok itu.

Posisi yang ambigu ini “adalah yang terbaik untuk Turki,” Gajic percaya, karena Rusia dan AS akhirnya membutuhkan dukungan Ankara.

Sumber: RT

Penerjemah: Faisal

PILIHAN REDAKSI