Wakil Ketua DPR RI: Kita Masih Miskin!

JAKARTA (UMMAT Pos) — Wakil Ketua DPR RI bidang Koordinator Kesejahteraaan Rakyat, Fahri Hamzah menilai tema pembangunan infrastruktur seperti yang dibanggakan pemerintah saat ini belum menunjukkan keberpihakan kepada kepentingan rakyat. Faktanya, proyek-proyek tersebut tidak mampu menyerap besarnya angkatan kerja.

“Tidak ada dalilnya bahwa pembangunan infrastruktur dibolehkan dengan cara merampas kesejahteraan rakyat, merampas hak-hak rakyat,” ungkap Fahri di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara DPR RI, Jl. Jenderal Gatort Subroto, Jakarta pada Selasa, (7/8/2018).

Dalam catatannya, Fahri juga menjelaskan fakta proyek-proyek infrastruktur  yang ada tidak mampu menyerap besarnya angkatan kerja yang ada di negeri ini. Hal ini menurutnya karena proyek-proyek tersebut bukanlah infrastruktur dasar yang menjadi kebutuhan masyarakat, tetapi infrastruktur modern yang dibangun dengan teknologi tinggi di mana bahan baku, peralatan bahkan tenaga kerjanya sekalipun didatangkan dari luar negeri.

“Dengan skema ini rakyat dapat apa? Mereka tetaplah miskin walau indikator makroekonomi dan indikator-indikator kesejahteraan menggambarkan mereka baik-baik saja,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Fahri didampingi Ekonom Senior, Dr. Fuad Bawazier, dan Moderator Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dr. H Saleh Partaonan Daulay juga mengungkapkan bahwa satu-satunya kondisi yang menguntungkan bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi masalah kemiskinan adalah adanya faktor ketahanan keluarga yang tangguh. Sistem keluarga yang tangguh inilah yang secara alamiah menyelesaikan persoalan-persoalan dasar seperti pengangguran.

Fahri menambahkan bahwa seandainya sistem individualisme yang lebih kuat, maka akan begitu jelas angka pengangguran dan antrian orang yang tak punya tempat tinggal (homeless) akan memenuhi jalan-jalan di kota-kota besar.

“Fenomena ini yang sekarang terjadi di negara-negara barat. tetapi, di sini, kegagalan negara diserap oleh masyarakat kita dengan sistem sosial yang masih kuat,” jelasnya.

Laporan: Rahmat Aris Dewanto

Editor: Faisal

PILIHAN REDAKSI