Apakah gempa di Lombok bisa pengaruhi aktivitas gunung api di sekitarnya?

Oleh: 

MENYUSUL gempa bumi mematikan berskala 6,4 richter pada 29 Juli 2018, Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat kembali diguncang gempa dengan kekuatan 7,0 skala richter pada Minggu malam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dilaporkan menghitung setidaknya 82 orang meninggal dunia dan raturan luka-luka akibat tertimpa material bangunan yang robok akibat guncangan. Sebelum gempa besar terkini, setidaknya hampir 500 gempa kecil terjadi pasca guncangan 29 Juli.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan‎ Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa 5 Agustus di Lombok kemarin adalah gempa utama. Setelah mainshock atau gempa utama, terjadi gempa-gempa kecil dengan kekuatan yang semakin menurun dan akhirnya benar-benar berhenti, karena Bumi telah mencapai kestabilannya.

Belajar dari pengalaman gempa, kita semua berharap semoga sesudah gempa utama di Lombok tidak ada lagi gempa besar yang akan terjadi.

Di dekat titik gempa Lombok terdapat beberapa gunung api aktif–Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat. Bagaimana dengan efek gempa besar dan gempa-gempa susulan bagi gunung api aktif di sekitar Pulau Lombok?

Apakah gempa tektonik itu?

Gempa tektonik adalah jenis gempa yang disebabkan oleh pergeseran lempeng-lempeng Bumi sehingga umumnya terjadi di batas antar pertemuan lempeng yang berinteraksi.

Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng utama. Lempeng Eurasia di bagian utara, kemudian Lempeng Indo-Australia yang menyusup di bawah Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik dan Filipina di Timur. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut menyebabkan terjadinya penimbunan energi secara perlahan-lahan. Ketika akumulasi energi tersebut dilepaskan dengan tiba-tiba, maka itulah yang disebut dengan gempa tektonik. Bertemunya tiga lempeng utama tersebut terjadi di Indonesia, maka tidak heran membuat negeri ini menjadi kaya akan gempa.

Untuk menjawab seberapa jauh gempa tektonik, berdampak pada sebuah gunung api, kejadian gempa tektonik yang pernah terjadi di Indonesia atau pun gunung api lainnya di dunia bisa dijadikan catatan dan pembelajaran.

Kasus Gunung Agung

Pada Selasa 3 Juli 2018 pukul 9:32 WITA Gunung Agung, Bali kembali mengeluarkan abu vulkanik. Beberapa menit sebelumnya gempa tektonik berkekuatan 4,9 skala richter terjadi di laut pada jarak 110 kilometer di selatan Denpasar dengan kedalaman 24 km.

Gempa tektonik di sekitar gunung api yang kritis, yaitu sebuah gunung api dalam status siaga atau awas–ditunjukkan ada peningkatan aktivitas seperti gempa vulkanik, keringnya mata air, peningkatan pelepasan gas maupun letusan-letusan kecil–dapat mempengaruhi aktivitas gunung api.

Dalam keadaan kritis, gas terlarut ataupun volume magma yang sangat banyak, sangat mudah dikeluarkan jika diberi pemantik, seperti halnya gempa bumi.

Bagaimana dengan Rinjani dan Tambora?

Gempa tektonik tidak selalu menyebabkan gunung api meletus. Jikapun letusan terjadi, maka kondisi sebuah gunung api harus dalam kritis. Jika sebuah gunung api dalam keadaan normal atau stabil, gempa tektonik biasa tidaklah cukup menyebabkan suatu gunung api meletus.

Gempa tektonik akan mengguncang, memperburuk kondisi dan akhirnya memberikan jalan keluar bagi magma ke permukaan saat kondisi sudah melampui batas kestabilannya.

Rinjani dan Tambora yang secara posisi geografis lebih dekat dengan pusat gempa tektonik yang terjadi di Pulau Lombok kemarin dibandingkan Agung, sepertinya tidak akan bergeming, karena keduanya dalam keadaan stabil. Semoga.

*) Penulis adalah Dosen di Jurusan Geologi, Fakultas Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung