Myanmar Kritik Pengadilan Kriminal Internasional Terkait Pengungsi Rohingya

NAYPYDAW (UMMAT Pos) — Pemerintah Myanmar mengkritik keras Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) yang mencoba ‘menyeret’ mereka setelah menyelidiki kejahatan dan gangguan keamanan atas lebih dari 700 ribu umat Islam Arakan di negara ini.

Myanmar menolak untuk terlibat dalam pengadilan ini dan menuduh ICC melanggar norma-norma hukum internasional karena mereka ingin melakukan penelitian tersebut. Negara itu mengatakan bahwa tidak ada kebijakan resmi untuk membuktikan kejahatan terhadap kemanusiaan di bawah Statuta Roma

“Permintaan oleh jaksa penuntut dapat ditafsirkan sebagai upaya tidak langsung untuk mendapatkan yurisdiksi atas Myanmar yang bukan merupakan Negara Pihak pada Statuta Roma,” kata kantor pemerintah dalam sebuah pernyataan, mengacu pada perjanjian pendirian ICC.

ICC telah memberi Myanmar batas waktu sampai 27 Juli untuk mengajukan tanggapan tertulis atas permintaan jaksa kepala, Fatou Bensouda untuk yurisdiksi yang mengatur apa yang disebutnya “deportasi yang diduga” atas lebih dari 700.000 orang Rohingya dari Rakhine saat tindakan kekerasan oleh pasukan keamanan yang dimulai pada 25 Agustus 2017.

Setelah Bensouda meminta putusan pada bulan April, kantor Aung San Suu Kyi menuduhnya mencoba untuk mengesampingkan prinsip-prinsip kedaulatan nasional dan non-interferensi dalam urusan internal negara-negara lain yang disebutkan dalam piagam PBB.

Sekitar 700.000 Muslim Rohingya, menurut perkiraan AS, melarikan diri dari penindasan ekstrimis mayoritas Buddha ke Bangladesh setelah penumpasan militer pada bulan Agustus 2017 yang oleh PBB disebut sebagai upaya pembersihan etnis/ genosida.

Pengungsi telah melaporkan serangkaian kejahatan berupa pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran dalam skala besar, tetapi Myanmar membantah hampir semua tuduhan. Sebaliknya mereka berdalih bahwa pihaknya sedang melancarkan operasi kontra-pemberontakan yang sah setelah diserang oleh militan Rohingya yang tertindas.

Sumber: Reuters, Radio Free Asia

Penerjemah: Faisal

PILIHAN REDAKSI