NASA: Daratan Lombok berubah bentuk dan naik 25 sentimeter akibat gempa

JAKARTA (UMMAT Pos) — Sebuah temuan dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan bahwa gempa Lombok pada awal Agustus dengan berkekuatan tujuh pada skala Richter menyebabkan kenaikan daratan lombok tersebut setinggi 25 sentimenter.

“Berdasarkan pola deformasi pada peta, para ilmuwan menyimpulkan pergeseran bidang patahan akibat gempa terjadi pada patahan di bawah bagian barat laut Pulau Lombok dan menyebabkan kenaikan permukaan daratan sampai 10 inci (25 sentimeter),” demikian dimuat pada situs NASA yang dikutip BBC.

Data baru satelit digunakan NASA untuk membuat peta perubahan bentuk daratan Lombok setelah gempa yang telah menewaskan 436 orang dan jumlah pengungsi mencapai 352.793 orang sampai hari Senin (13/08).

Menanggapi kabar tersebut, Agustan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjelaskan bahwa kenaikan daratan setinggi 25 cm dipandang tidak terlalu menyebabkan pengaruh kepada penduduk yang hidup di Lombok.

“Tapi 25 cm sih nggak begitu ini sih yah. Kalaupun ada jejaknya, rupture di daerah batas mana naik mana turunnya itu mungkin yang tanahnya akan kelihatan retak,” katanya.

Salah satu contoh ekstrem adalah penurunan sebagian daratan akibat Gempa Aceh tahun 2004 yang menyebabkan penduduk kehilangan tanah terganti laut.

Sementara kenaikan daratan bisa menyebabkan garis pantai menjadi maju, seperti yang terjadi di Gempa Nias tahun 2005 yang menyebabkan kenaikan 2-3 meter.

Pandangan senada disampaikan dosen geodesi Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano  yang mengatakan bahwa kenaikan 25 cm  tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari penduduk karena terjadi secara bersamaan.

“Apakah kemudian ini berdampak pada proses rekonstruksi, menurut saya tidak terlalu berdampak. Skala dari kenaikannya bersifat massive. Jadi kenaikannya tidak satu rumah, satu rumah tidak naik. Tetapi kemudian naik bersama-sama.”

“Yang harus diperhatikan adalah apabila kemudian rumah yang akan kita bangun kembali dekat dengan tebing yang kemudian bisa longsor,” jelasnya.[fm]

PILIHAN REDAKSI