Apa saja dampak krisis Turki bagi ekonomi Indonesia?

JAKARTA (UMMAT Pos) —¬†Presiden Joko Widodo belum lama ini meminta jajarannya memperkuat cadangan devisa untuk mengokohkan ketahanan terhadap ketidakpastian ekonomi global, termasuk dampak dari krisis ekonomi di Turki.

“Kita harus jaga stabilitas rupiah dalam nilai yang wajar, inflasi rendah, defisit transaksi yang aman,” kata Jokowi dalam rapat terbatas dengan topik lanjutan strategi kebijakan memperkuat cadangan devisa di Kantor Presiden, Selasa (14/08).

Kementerian Perdagangan dan Bea Cukai juga diminta untuk cermat dalam mengendalikan impor. Hal itu harus dilakukan secara detail dan cepat sehingga impor barang yang memang sangat penting dan sangat tidak penting bisa diketahui.

“Juga terkait terobosan untuk meningkatkan ekspor. Dalam ratas lalu banyak disinggung, termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan investasi. Kita juga sudah buka OSS (Online Single Submission). Ini dampaknya apa, harus dilihat,” kata dia.

Merujuk pada data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan antara Indonesia dan Turki mencapai US$1,7 miliar atau hampir Rp 25 triliun hingga semester pertama 2018.

Sama halnya Turki, Indonesia kini juga tengah menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dengan tren penurunan. Sejak awal tahun, rupiah mengalami depresiasi hampir 8% terhadap dolar AS.

Rupiah termasuk dalam mata uang dengan peforma terburuk, bersama dengan rupee India dan peso Brasil,. Ketiga mata uang rupiah itu jatuh paling dalam ketimbang mata uang lainnya seperti bath Thailand serta dolar Singapura.

Dikutip dari Bloomberg, pada Selasa (14/08) rupiah melemah 7,76% terhadap mata uang Dolar AS. Mata uang rupee India melemah sebesar 9,33% dan mata uang peso Filipina melemah 7,23%.

Sementara nilai tukar bath Thailand hanya melemah 2,50% terhadap dolar AS, serta dolar Singapura melemah sebanyak 3,05% terhadap mata uang Paman Sam itu.

Lantas, apakah krisis yang sama juga akan merembet ke Indonesia?

Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan terdapat perbedaan fundamental ekonomi yang nyata antara Indonesia dan Turki.

Defisit transaksi berjalan (CAD) yang sebesar 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan inflasi yang rendah di level 3,5% menandakan ekonomi nasional masih terkendali.

“Makanya yang muncul dari CAD, walaupun 3% tidak setinggi waktu taper tantrum (efek pengumuman kebijakan moneter AS tahun 2013 yang langsung memukul kurs sejumlah negara) tapi kita akan tetap hati-hati dan menjaga supaya dia tidak menjadi sumber kerawanan,” ujar Sri Mulyani seperti dikutip dari detik.com.

Kendati begitu, dia menegaskan Indonesia akan terus memantau perkembangan gejolak di Turki secara hati-hati.

“Karena situasi di Turki kan sangat spesifik, tidak hanya finansial, tidak hanya ekonomi, tapi juga ada masalah security maupun politik di tingkat global,” ujar Sri Mulyani.[fm]

PILIHAN REDAKSI