Fahri Hamzah: Lombok Pulih Tak Bisa dengan Politik Media dan Kerja membangun Citra

SAHABAT, dari Makkah saya terus memantau Gempa Lombok sebagai bencana yang dahsyat. 19 Hari setelah gempa Lombok pada 29 Juli kemarin.

Dari tanah suci, saya berdoa, semoga Allah kuatkan, kokohkan hati dan jiwa seluruh pengungsi akibat GempaLombok.

Semoga jiwa-jiwa yang kembali ke pangkuan Ilahi, diterima ditempat yang terbaik, diberikan pengampunan, dan dikumpulkan bersama shalihin dan siddiqin.
Pukulan ini masih terasa di relung hati sanubari kita, dan tangis masih sering terdengar. Kehilangan masih terasa.

Hingga hari ini, tercatat 417.259 pengungsi. Jumlah itu 2 kali lipat jumlah penduduk kabupaten Lombok Utara atau sekitar 12 persen dari total penduduk Lombok.
Angka ini menunjukkan begitu luasnya dampak gempa yang mengguncang Lombok ribuan kali.

Juga terdapat 458 jiwa korban meninggal dunia dan 71.740 total rumah rusak.

Sampai hari ini, saya tetap meminta kepada Presiden @jokowi agar memperhatikan secara sungguh 2 penanganan pasca gempa di Lombok. Apapun, penanganan ini memerlukan gerak cepat.

Kesungguhan itu, bisa kita rasakan dengan penataan kelembagaan pasca gempa, misalnya dengan segera membentuk semacam Badan Rehabilitasi dan rekonstruksi nasional untuk Lombok melalui Kepres.

Badan ini akan menjamin kerja cepat. Bisa cepat karena yang akan bekerja di lembaga ini adalah mereka yang tidak tertimpa musibah.

Sementara jika kita mengandalkan Pemda, sementara pejabat Pemda sendiri juga adalah korban bencana. Ada yang kehilangan keluarga minimal rumahnya retak.

Ini bukan soal menganggap Pemda NTB atau kabupaten terdampak tidak sanggup, tetapi murni kalkulasi yang paling banyak bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup rakyat.
Sebab Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Kita harus berani mengambil keputusan.

Sampai hari ini, tim saya masih terus bergerak, melihat, mencatat situasi. Sebagian mendirikan dapur umum, distribusi logistik, juga trauma healing. Namun tentu kapasitas masyarakat sipil terbatas, dan kapasitas negara yang turun pun belum optimal. Semua tampak kewalahan.

Alat-alat berat yang diturunkan untuk membersihkan puing-puing bangunan tampak kurang memadai. Jaringan listrik belum pulih. Jaringan instalasi air masih rusak. Infrastruktur hulu dan hilir rusak parah dan harus dibangun ulang.

Gempa Lombok ini telah menimbulkan banyak korban, juga memukul perekonomian NTB.
Wisatawan pergi, hotel-hotel pun kosong. Rumah sakit masih menerima pasien di tenda untuk UGD. Rumah sakit retak dan mencemaskan pasien lama dan yang baru.

Dampak dari fenomena ini, dipastikan pajak daerah akan terkoreksi dan merosot. Sumber-sumber pajak daerah seperti pajak hotel, restoran, dan lain-lain akan tertekan, wisatawan lari justru di saat peak season. Dan masyarakat terpaksa menganggur secara massif.

Berita di gambar ini memperjelas kekhawatiran soal pukulan ke perekonomian NTB. Senggigi mati, Lobar Terancam Bangkrut, padahal pengeluaran wisatawan mancanegara selama 3 hari sama dengan hasil panen sawah 1 Ha. Lombok tak akan bertahan tanpa pariwisata.

Untuk mengembalikan wisatawan tak bisa dilakukan dengan politik media, mengumumkan ke dunia bahwa Lombok telah pulih, dampak gempa tak mungkin bisa disembunyikan. Di kota Mataram saja tenda-tenda masih berdiri dipinggir jalan.

Kenyataan tak bisa ditutupi. Kepercayaan wisatawan hanya bisa dipulihkan dengan menunjukkan ke masyarakat dunia bahwa negara serius hadir dengan time table yang jelas membangun kembali lombok. Kirimlah sinyal itu dan beri kepastian.

Lalu dengan demikian, kita bisa menununjukkan bahwa masyarakat lokal telah ceria dan siap menyambut tamu kembali. Pariwisata itu pasar, jika masyarakat masih terlihat murung dalam kesedihan maka sehebat apapun promo Lombok telah pulih tak akan bisa menarik kembali wisatawan.

Target jangka pendek yang harus dilakukan oleh pemda adalah membangun kerjasama antar daerah utk membangun paket turisme, Bali-Lombok semisal, temui seluruh agency & pelaku dunia pariwisata, berikan kepastian bahwa setidaknya senggigi dan Kuta sudah aman dan nyaman sebagai destinasi.

Terpukulnya dunia pariwisata ini tidak hanya akan membuat income pemerintah daerah yg akan bangkrut, lebih parah lagi juga para pengusaha dunia pariwisata yang akan gulung tikar, cost of maintenance hotel semisal sangat tinggi, tanpa tamu mereka akan terkapar.

Tentu, Parawisata hanyalah salah satu sektor yang sedang kita bangun dan tumbuh. Ada banyak sektor lain; pertanian, hortikultura dan sektor pedesaan yang memikul efek kerakyatan dan tenaga kerja paling banyak. Semua harus dihidupkan kembali.
Untuk itulah kita memerlukan sebuah badan yang akan mengambil keputusan yang lebih cepat.

Semoga presiden Jokowi memahami makna usulan ini demi kebaikan korban bencana yang memilukan ini. Semoga. Doa untuk Lombok dari Makkah.

Sumber: Twitter @Fahrihamzah 16/8/2018

PILIHAN REDAKSI