Gempa Susulan Masih Dirasakan di Tengah Upaya Penanggulangan Bencana

LOMBOK TIMUR (UMMAT Pos) — Satu gempa berkuatan tujuh pada skala Richter (SR) mengguncang Lombok pada Ahad (19/08) setelah sebelumnya dua gempa berkekuatan 6,5 dan 5,4 SR, melanda wilayah yang masih berupaya menanggulangi akibat gempa pada akhir Juli dan awal Agustus lalu.

Korban meninggal akibat rentetan gempa lebih dari 460 orang sejauh ini dan lebih dari 350.000 orang mengungsi.

Guncangan paling keras dirasakan di Sembalun, Lombok Timur, yang berlokasi di lereng Gunung Rinjani, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Agung Pramudja mengakui pihaknya kini berjibaku dengan waktu memitigasi bencana di tengah gempa susulan.

“Jadi kita tetap berjibaku siang malam, 24 jam, untuk mengatur logistik dan menangani semua aktivitas, baik dari evakuasi, medical, trauma healing. Semuanya kami tangani,” cetusnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengakui, guncangan gempa memang tidak bisa diprediksi, namun langkah-langkah antisipasi terus ditingkatkan.

“Jadi melalui pendidikan kebencanaan, sosialisasi, latihan-latihan terus kita tingkatkan. Jadi kepada masyarakat umum ketika merasakan goncangan gempa, bagaimana secepatnya keluar rumah, keluar bangunan untuk berada di tempat lapang yang tidak berbahaya,” jelas Sutopo.

Lereng Gunung Rinjani longsor
Imbas dari gempa gempa 6,5 SR telah menyebabkan longsor di beberapa titik lereng Gunung Rinjani, seperti di Bukit Pegangsingan dan Bukit Anak Dara, yang berlokasi di Sembalun Kabupaten Lombok Timur.

“Bukit Pegangsingan longsor, juga beberapa titik di Gunung Rinjani,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Agung Pramudja.

Longsor yang terjadi jauh lebih besar ketimbang longsor akibat gempa 6,4 SR lalu, di mana material batu-batu dari bagian atas gunung longsor menuruni lereng sehingga menimbulkan debu di lereng Gunung Rinjani.

“Banyak terjadi kerusakan di Desa Sugiyan dan Sembalun, Lombok Timur,” jelas Agung.

Menyusul longsor imbas dari gempa ini, Taman Nasional Gunung Rinjani masih ditutup mengingat gempa susulan yang terus terjadi.

Berdasarkan laporan pihak berwenang setempat, beberapa kerusakan rumah dan bangunan di Desa Korleko Selatan seperti menara Masjid Babussalam Dusun Lembak Daya, Kecamatan Sembalun.

Berdasar analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) goncangan gempa yang dirasa kali ini hanya goncangan sedang, dan tidak menimbulkan kerusakan yang parah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan biasanya kerusakan bangunan terjadi jika kekuatan guncangan gempa di atas 6 MMI. Sedangkan guncangan gempa pada hari Minggu hanya berkisar 4 MMI.

“Oleh karena itu kita masih menganalisis apa yang terjadi di lapangan, memang masyarakat menjadi trauma. Di satu sisi masyarakat memang sudah bergerak untuk membersihkan puing-puing gempa dan sebagainya, kemudian terjadi gempa,” cetusnya.

“Kita masih melakukan pendataaan apakah menambah korban jiwa,” ujarnya.[fm/bnpb]

PILIHAN REDAKSI