Tetap Bekerja Meski Jalani Perawatan Medis, Terima Kasih Pak Topo!

JAKARTA (UMMAT Pos) — Tidak banyak yang menyadari bahwa ketika mengumpulkan informasi, menganalisa dan menyebarluaskannya kepada media, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho sebenarnya sedang menjalani perawatan medis.

“Sejak Januari 2018 saya divonis dokter menderita kanker paru-paru stadium empat, sudah menjalar ke tulang, terutama tulang belakang, dan sampai saat ini masih terus dalam proses pengobatan. Saya diinfus dengan kemoterapi, radiasi dan minuman-minuman herbal dan sebagainya,” ungkapnya pria yang namanya sering disebut sebagai rujukandalam setiap pemberitaan bencana ini.

Akhir-akhir ini ia mengaku mengumpulkan informasi, menganalisa dan kemudian menjelaskan terjadinya bencana kepada teman-teman pers dalam kondisi berbaring, bed rest di rumah sakit karena sedang diinfus kemoterapi.

“Pernah saya baru selesai operasi penyedotan cairan di paru-paru yang terendam air, darah, dan sebagainya; saya tetap bersedia dikontak teman-teman. Justru dengan kesibukan-kesibukan itu mengalihkan rasa sakit saya, sehingga saya tidak terlalu merasakannya. Sungguh saya tidak pernah menganggap pekerjaan saya itu sebagai beban, saya jalani sebisanya,” lanjutnya seperti dikutip Voa Indonesia.

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, pria yang akrab disapa Pak Topo kini mengurangi aktivitas fisik. Ia tidak lagi langsung turun ke daerah bencana sebagaimana yang kerap dilakukannya, tetapi mengumpulkan dan menganalisa informasi dari tempat tidurnya di mana ia dirawat, dan sesekali dari kantornya.

Sutopo dalam salah satu cuitannya di Twitter

Ia bersahabat dengan lebih dari 3.000 wartawan dalam dan luar negeri, yang dikelompokkannya dalam sejumlah WhatsApp Group. Ini belum termasuk kontaknya dengan ribuan personil Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD yang tergabung di 200 WhatsApp Group, dan kelompok-kelompok pemantau bencana di dalam dan luar negeri.

Ia mengatakan, “Saya memiliki banyak sistem dan jalur untuk mendapatkan informasi yang terkait bencana. Saya memiliki “Indonesia All Warning and Risk Evaluation,” yang dibantu Pacific Disaster Center, dan dibiayai pemerintah Amerika. Mekanisme kerjasama ini sudah berjalan selama lima tahun. Lewat hal ini kami bisa memantau bencana di seluruh dunia, sehingga apa yang terjadi di Amerika, Eropa atau kawasan negara-negara lain, kami juga mendapatkan informasinya. Sistem informasi ini kemudian kami perluas agar BPBD di tingkat kabupaten juga bisa mendapat akses untuk menginformasikan apa yang terjadi di daerah mereka.”

Sutopo Purwo Nugroho yang menyelesaikan pendidikan strata tiga di Institut Pertanian Bogor IPB memiliki kekhasan ketika menyampaikan informasi, yaitu menyampaikannya sesegera mungkin secara berkala setelah terkonfirmasi.

“Kita tidak perlu menunggu data lengkap sekali baru mengeluarkan pernyataan, karena dalam kondisi bencana atau krisis di mana senantiasa terjadi update informasi, bisa-bisa tidak pernah keluar pernyataan jika harus menunggu. Yang pasti orang tahu jika ingin mendapatkan informasi akurat, mereka hanya perlu melihat data di BNPB,” jelasnya.

Hal ini menurutnya penting sebab tidak mudah membangun dan menjaga kepercayaan publik ini dan karenanya kita harus siap bekerja di luar cara-cara normal atau cara-cara rutin.

“Apalagi bencana di Indonesia sering terjadi pada akhir pekan, kalau mengikuti pola normal berarti informasi baru beredar pada hari masuk kerja. Humas bukan sekedar menyelenggarakan konferensi pers, meliput pimpinan atau acara-acara seremonial pada hari kerja. Humas harus bekerja cepat, kapan pun, di mana pun,” paparnya.[fm/VoA]

 

PILIHAN REDAKSI