Dicari sukarelawan teknik bangunan sebagai pendamping rekonstruksi rumah pascagempa

JAKARTA (UMMAT Pos) — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan sedang mencari banyak orang yang bersedia menjadi sukarelawan pendamping, bagi para warga untuk merekonstruksi rumah yang rusak pascagempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan sekitarnya.

“Kami sangat memerlukan khususnya mahasiswa-mahasiswa teknik untuk menjadi pendamping fasilitator,” kata Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Danis Hidayat Sumadilaga dalan acara diskusi “Rekonstruksi Fasilitas Dasar Pascagempa Lombok 2018” di Kemenkominfo, Jakarta, Senin.

Menurut Danis, data terkait jumlah rumah yang rusak pascagempa juga terus diverifikasi, seperti semula data awal ada sekitar 70 ribu rumah yang rusak, tetapi data tersebut saat ini ternyata jumlahnya bertambah hingga sekitar 115 ribu unit.

Ia memaparkan bahwa tugas Kementerian PUPR adalah mendampingi warga agar rumah yang dibangun kembali dapat dipertanggungjawabkan secara teknis bila terjadi gempa lagi pada masa mendatang.

RISHA (Rumah Instan Sehat Sederhana) merupakan salah satu dari teknologi Unggulan Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman. Foto:
Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman

Pada tahap awal, ujar dia, pihaknya sudah melakukan pelatihan, tetapi karena yang dihadapi cukup besar, maka memerlukan waktu seperti untuk merekrut fasilitator guna mendampingi tim PUPR kepada warga yang membangun rumahnya.

Dirjen Cipta Karya juga mengatakan kebanyakan rumah yang roboh karena tidak memenuhi kaidah struktur yang baik, seperti ada rumah yang tidak memiliki tiang atau besi tulangan.

Sebelumnya, ia mengatakan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga yang rusak akan selesai dalam waktu satu tahun, karena terkait dengan teknologi yang digunakan yaitu Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha).

Teknologi itu menggunakan sistem modular sehingga mudah dipasang dan lebih cepat penyelesaiannya dibandingkan konstruksi rumah konvensional. Selain itu, menurut dia, biayanya terjangkau, mudah dipindahkan, tahan gempa dan dapat dimodifikasi menjadi bangunan kantor, puskesmas, rumah sakit, sekolah, dan lainnya.

“Dengan ukuran tipe 36 dan biaya tiap 1 meter persegi sekitar Rp1,5 juta maka biaya yang dibutuhkan sekitar Rp50 juta per unit rumah. Untuk komponen paling mahalnya yakni besi dan semen, akan dipasok oleh BUMN untuk memastikan harga pembangunannya sama. Kami pasti instruksikan untuk gunakan komponen dari dalam negeri,” jelas Danis.

Sumber: Antara

PILIHAN REDAKSI