Rupiah tertekan ke posisi 14.730 per Dolar, BI tingkatkan intervensi di pasar valas dan obligasi

JAKARTA (UMMAT Pos) — Bank Indonesia meningkatkan intervensi mata uang dan obligasi pada hari Jumat untuk mempertahankan rupiah. Nilai tukar rupiah turun 0,3 persen menjadi 14.730 per dolar pada hari Jumat. Jika posisi melemah terus berlanjut, hal itu dikhawatirkan akan membawa pada  tingkat seperti pada tahun 1998 saat krisis moneter.

Meskipun demikian, beberapa analis mengatakan bahwa perekonomian terbesar di Asia Tenggara dalam kondisi yang lebih baik dalam menahan dampak depresiasi mata uang secara bertahap jika dibandingkan dengan krisis 1997-1998.

“Komitmen Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama rupiah, sangat kuat. Oleh karena itu, kami telah meningkatkan intensitas intervensi kami, ”kata Gubernur Perry Warjiyo kepada wartawan pada Jumat, (31/8/2018).

Di samping intervensi di pasar valas, BI juga telah melakukan pembelian surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder serta membuka lelang foreign exchange swap dengan target lebih dari 400 juta dolar AS dana masuk.

“Itu yang terus kami lakukan langkah stabiliasi di BI. Kami juga lakukan koordinasi secara erat dengan Kemenkeu dan OJK untuk memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar tetap terjaga,” tambah Perry.

Selain melakukan intervensi, Perry juga berupaya meyakinkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia sejauh ini cukup kuat, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi maupun inflasi Agustus yang diproyeksikan rendah di sekitar 0 persen.

Perry mengatakan BI akan terus memantau perkembangan pasar di Argentina dan Turki, meskipun ia menekankan bahwa ekonomi Indonesia cukup “kuat”.

“Dibandingkan Turki dan Indonesia, ketahanan ekonomi Indonesia cukup baik,” ujarnya.

BI telah menaikkan suku bunga empat kali sejak Mei dengan total 125 basis poin, mencoba mendapatkan investor untuk membeli aset Indonesia lagi.

Sejumlah indikator makro menunjukkan kondisi yang kuat a.l. pertumbuhan ekonomi yang bagus, inflasi yang rendah dan kondisi stabilitas sistem keuangan tetap kuat.

Selain itu, Perry menegaskan kebijakan di Indonesia sangat hati-hati dibandingkan negara-negara lain.

Satu hal lagi, BI melihat komitmen pemerintah yang cukup kuat untuk segera menurunkan defisit transaksi berjalan, a.l. dengan membatasi impor, penerapan B20, penegakan aturan TKDN di proyek infrastruktur serta pengembangan pariwisata.

“Kami yakinkan ketahanan ekonomi Indonesia cukup baik,” pungkasnya.

Sumber: Reuters | Rimanews | Finansial.Bisnis

Faisal

PILIHAN REDAKSI