Berbeda dengan Rupiah, Ringgit Malaysia dan Baht Thailand justru bertahan terhadap Dolar AS

JAKARTA (UMMAT Pos) — Di tengah pelemahan mata uang negara-negara yang perekonomiannya sedang bangkit (emerging markets), namun setidaknya dalam dua pekan terakhir, mata uang beberapa negara justru mampu bertahan dengan baik terhadap dolar AS.

Pertama, mata uang Thailand Baht, yang merupakan mata uang Asia dengan kinerja terbaik karena mengalami kenaikan 1,3 persen terhadap dolar AS sejak pertengahan Agustus, dan juga nilainya terus stabil sepanjang tahun.

Kedua, meskipun tidak sekuat mata uang Baht, Ringgit Malaysia juga terbukti cukup tangguh, karena tidak terpengaruh oleh pelemahan mata uang negara-negara lainnya terhadap dolar AS dalam dua-tiga pekan terakhir.

Baik Thailand maupun Malaysia memiliki beberapa kesamaan dalam fundamental ekonomi mereka, yaitu: tingkat inflasi yang rendah serta surplus transaksi berjalan yang besar.

Thailand memiliki surplus transaksi berjalan yang besar, sebagian didorong oleh pertumbuhan sektor pariwisatanya yang sangat kuat. Surplus transaksi berjalan mendukung kuatnya nilai mata uang suatu negara, karena itu berarti negara tersebut kurang bergantung pada mata uang asing, demikian menurut seorang analis. Selain itu, Thailand adalah eksportir besar mobil dan barang-barang lainnya, yang juga memberikan kontribusi penting terhadap surplus transaksi berjalan.

Sementara, Malaysia adalah eksportir minyak yang cukup besar, sehingga harga minyak yang menguat telah membantu surplus transaksi berjalan negara itu di samping ekspor komoditas seperti kelapa sawit, menurut analis lainnya. Ringgit Malaysia bertahan cukup tangguh terhadap dolar AS karena hanya mengalami pelemahan sekitar 1,4% sepanjang tahun 2018 ini.

Sementara itu, di antara negara-negara yang pelemahan mata uangnya paling parah terhadap dolar AS adalah Peso Argentina, Lira Turki, Rupiah Indonesia dan Rupee India. Pelemahan negara-negara tersebut menyebabkan kekhawatiran adanya efek penularan (contagion effect) yang bisa menyebar ke pasar negara-negara berkembang lainnya.

Sumber: CNBC | VoA

Faisal

 

PILIHAN REDAKSI