Pemuda Muhammadiyah: Masalah kebijakan ekonomi kita bukan pada teknis ekonominya

JAKARTA (UMMAT Pos) — Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak kembali menyoroti persoalan kebijakan ekonomi yang diibaratkannya sedang mengalami penyakit kronis, kanker ekonomi.

“Kita berkutat pada debat teknorasi dan teknis ekonomi, pusat kanker ekonomi Indonesia bukan disitu, pusat kanker ekonomi kita ada pada pembuat kebijakan yang kalah dengan laku rente dan tunduk kepada para pemburu rente,” ujarnya kepada Ummat Pos, Sabtu, (8/9/2018).

Pengajar Ekonomi dan Keuangan Publik di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten ini menegaskan bahwa kebijakan ekonomi Indonesia pada jalur yang benar bukan sekedar tentang teknorasi ekonomi lengkap dengan formula statistik matematis, an sich.

Yang paling utama adalah komitmen pemimpin untuk memastikan tidak kalah dan tunduk dengan para pemburu rente,” imbuhnya.

Pria yang akrab disapa bang Anil ini mencontohkan sosok ekonom seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani yang terus dihujat oposisi sebagai neolib dan agen asing, namun pada gilirannya, oposisi yang berkuasa tetap memilih ekonom yang dikritiknya saat berkuasa.

Ia pun kemudian mengingatkan kembali bahwa kampanye ekonomi kerakyatan dulu. “Jadi, masalah kebijakan ekonomi kita bukan pada teknis ekonominya namun pada integritas Pemimpinnya,” papar pendiri Madrasah Anti Korupsi ini.

Oposisi sekarang, lanjut Dahnil juga berteriak hal yang sama dengan oposisi dulu.

“Ketika SBY berkuasa, tapi apakah akan berlaku yang sama ketika berkuasa nanti?. Jadi, yang penting kita tagih dari janji-janji itu bukan sekedar kemampuannya menjelaskan masalah teknorasi ekonominya, karena hal itu de javu,” ungkapnya.

Menurutnya, pengulangan dari rezim ke rezim, hingga sekarang yang perlu ditagih dan ditunggu adalah komitmen untuk berani melawan laku nalar rente dalam kebijakannya kelak, dan “menenggelamkan” para pemburu rente dan “bandit politik”.

“Jadi tugas utama Presiden kedepan adalah “perang” lawan bandit politik pemburu rente, bila deklarasi itu jadi janji yang sungguh-sungguh. Maka, baru kita mulai formula-formula ekonomi berkemajuan itu,” pungkasnya.

Faisal

PILIHAN REDAKSI