Dugaan Kristenisasi di Lombok, A’a Gym: Jangan Buat Mereka Menderita di Akhirat

JAKARTA (UMMAT Pos) — Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid, KH Abdullah Gymnastiar mengingatkan publik untuk meningkatkan kewaspadaan atas gerakan kristenisasi di Lombok, atau langkah memurtadkan seseorang dari agamanya.

Menurut A’a Gym, upaya memurtadkan korban bencana sama saja dengan membuat orang lebih menderita tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat.

“Jangan memanfaatkan penderitaan orang untuk lebih menderita di Akhirat, dengan dimurtadkan,” ungkapnya saat ditemui di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Selasa (11/09/2018).

Ia pun meminta semua pihak termasuk aparat penegak hukum dapat melihat kasus ini secara benar, akurat dan lengkap, sehingga bisa menyikapi dengan adil dan proporsional.

“Mudah-mudahan semua pihak bisa melihat semua ini dengan BAL, benar, akurat dan lengkap,” jelasnya.

A’a Gym mengatakan jika pemurtadan adalah sebuah tindakan yang melanggar Undang-undang, dan sudah sepatutnya dilakukan tindakan sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.

“Sebaiknya polisi bersikap sesuai dengan Undang-undang, jika ada yang memanfaatkan bencana untuk langkah-langkah memurtadkan, berarti itu sudah melanggar UU, seharusnya itu yang ditindak,” ungkapnya.

Jika memang polisi ingin membantu menyelesaikan kasus ini, Aa Gym meminta sebaiknya aparat menindak orang-orang yang diduga melakukan pemurtadan atau penghasutan kepada orang yang sudah beragama, bukan mengkriminalisasi seseorang yang memvideokan kasus tersebut.

“Jika ingin membantu, ya membantu saja, jangan ada upaya yang membuat pelanggaran lainnya,” ungkapnya.

Menjawab pertanyaan wartawan perihal apakah tim Daarut Tauhid akan turun untuk menangkal dugaan kristenisasi tersebut, A’a Gym mengungkapkan pihaknya masih fokus kepada membantu korban gempa.

“Kalau kristenisasi, kita berharap nanti bisa bersikap dengan cara yang paling pas, sementara ini kita baru fokus membantu terhadap korban bencana, dan membangun rumah anti gempa,” pungkasnya.

Reporter: Abdullah Jundii

Editor: Faisal

PILIHAN REDAKSI