Saya mau pindah agama saja

JUJUR, sejak pindah beberapa bulan lalu, saya banyak mengagumi tingkah laku dan cara berpikir orang-orang Amerika. Contohnya, budaya para pengemudi yang terbiasa berhenti ketika melihat pedestrian yang akan menyeberang jalan; disiplin waktu; dosen yang sangat menghargai mehasiswa; polisi lalu lintas yang ramah menyapa rakyat sipil di selah-selah menjalankan tugas; pelayanan-pelayanan publik yang super convenient, dll…

Pertama kali tinggal di luar negeri dan melihat budaya serta gaya hidup yang sangat berbeda, to be frank, I got so excited.

Tapi saya juga harus adil, karena di sisi lain banyak juga hal-hal yang kurang baik, bahkan bisa dibilang bertentangan dengan keyakinan saya sebagai seorang Muslim. Tapi tulisan ini tidak akan membahas itu.

Bagi saya, hal yang paling menantang dari semua itu adalah bagaimana saya tetap teguh memegang dan meyakini prinsip-prinsip kebenaran Islam ketika di hadapan saya ada nilai-nilai kebaikan yang ditampilkan justru oleh orang-orang non-muslim. Maksud saya, saya menemukan banyak hal yang pada dasarnya ‘sangat Islami’ di negeri minoritas Islam ini; hal-hal yang hampir tidak pernah saya temukan di negara asal saya sendiri yang notabene mayoritas Muslim. Ironis bukan? Lumayan.

On the other side of the fence, terdapat beberapa teman yang belajar ke luar negeri, lalu mungkin karena terlalu kagum dengan budaya dan alur-alur pemikiran Barat, akhirnya perlahan terhegemoni dan (cenderung) menelan mentah-mentah setiap pemikiran yang datang dari para pemikir Barat itu. Mereka perlahan berubah, lalu akhirnya memiliki kecenderungan berbalik menyerang banyak hal dalam agamanya sendiri.

Tentu saja kita tidak berhak menghakimi secara mutlak mereka benar atau salah, tapi menurut pandangan subyektif saya, mereka tidak fair. Why? Karena mereka menjadi sangat kritis terhadap syariat, tapi sangat permisif terhadap budaya-budaya Barat. Atas nama humanisme yang mereka anggap standar kebenaran universal, standar kebenaran justru menjadi kabur; akhirnya di satu sisi mereka mampu memberi pemakluman, tapi di sisi lain mereka enggan. Misalnya, syariat khitan dianggap menindas dan mengeksploitasi kaum hawa, tapi pernikahan sejenis dianggap hak kebebasan menentukan pilihan; wanita yang suka rela mengenakan hijab dianggap tertindas doktrin agama, tapi wanita yang berpakaian minim bahkan telanjang dianggap kebebasan. What a funny double standard!!!

Nah, kembali pada kekaguman terhadap beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas. Menurut hemat saya, kagum sih boleh-boleh saja, tapi kekaguman itu tidak boleh berlebihan, apalagi lantas menjadikan pemikiran-pemikiran mereka layaknya kebenaran mutlak. Sebaliknya, melihat mereka, saya justru semakin sadar akan kesempurnaan syariat Islam. Karena saya sadar, setiap hal baik yang mereka lakukan, juga sudah diatur di dalam Islam. It may sound exaggerating, tapi kamu boleh menyebut satu-persatu kebaikan-kebaikan di luar sana, dan ada ribuan bahkan jutaan cendekiawan Muslim yang mampu menjelaskan bagaimana Islam lebih dulu mengatur semua itu.

Yah, tapi kita harus akui, ada masalah besar di tubuh kaum Muslimin hari ini. Banyak di antara kita yang justru hidup jauh dari ajaran-ajaran Islam. Tapi waitssss, saya ingin garis bawahi, bahwa masalahnya ada pada kaum Muslimin, bukan pada Islam dan ajaran-ajarannya. Yah, itu perlu ditegaskan. Saya teringat pernah menonton sebuah video yang menampilkan tokoh Irshad Manji yang berbicara tentang bukunya “The Trouble with Islam”. Dia terang-terangan menuduh bahwa kesalahan bukan hanya pada cara pandang orang-orang Islam memahami agamanya, tapi juga pada Islam itu sendiri (termasuk Al-Qur’an yang butuh ditafsir ulang).

Dia menyebut dirinya dan para pengikutnya “Muslim reformist”. Seorang peserta mengacungkan tangan dan bertanya, “Kalau Islam sebegitu salahnya di mata anda, kenapa anda tidak berdiri dan mengatakan SAYA MAU PINDAH AGAMA SAJA?” Jleeebbb…. Saya masih ingat wajah tokoh liberal itu langsung berubah.

My dear brothers and sisters, sekali-kali jangan, jangan pernah meragukan kebenaran Islam. Percayalah, tidak ada yang salah dengan cara pandang ulama-ulama klasik dalam menafsirkan Alqur’an, mengejawantahkan pokok-pokok syariat Islam; demikian juga dengan cara mereka mengajarkan ilmu-ilmu itu turun-temurun dari generasi ke generasi. Ketika Allah mengatakan “Innaddina ‘indallaahil Islam”, berarti Allah tidak akan membiarkan agama ini dimanipulasi oleh manusia manapun. Silakan dilihat, setiap kali ada upaya penyelewengan ajaran Islam, ada jutaan Muslim di seluruh dunia yang siap meluruskan dan mengatakan, “No, it’s not Islam.”

Maka, pekerjaan rumah terbesar kita hari ini nampaknya bukan semata-mata menjelaskan Islam kepada dunia melalui kata-kata, tapi memperlihatkan Islam kepada dunia melalui tingkah laku, tutur kata, kepedulian-kepedulian, dan aksi nyata kita. It’s not merely a matter of SAYING I’m a Muslim, but rather showing I AM A MUSLIM.

Saya sendiri sangat sadar betapa dahsyat dinamika kehidupan di luar negeri; jauh dari komunitas orang-orang beriman; jauh dari orang-orang yang bisa mengingatkan ketika salah. Makanya, sebelum memutuskan berangkat sekolah ke sini, saya diam-diam meminta Sang Penggenggam hati: jika memang belajar ke luar negeri akan menjadikan saya Muslim yang lebih buruk; berani melawan syariat-syariat-Mu; lancang menabrak aturan-aturan-Mu, lebih baik tidak usah yaa Allah…

Terakhir, saya mohon do’a teman-teman sekalian untuk saya dan keluarga, semoga dinamika kehidupan di sini tidak membuat keislaman kami luntur, apalagi sampai berani menyerang balik Islam. Do’akan kami agar tetap istiqamah, diberi kemampuan untuk menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya (meski nampaknya itu berat), dan kembali ke tanah air sebagai Muslim yang lebih baik.

Penulis: Hendra Bakti
Revere, MA — September 9th, 2018.