Hijrah dan Arah Baru, Renungan 1 Muharram 1440H

Fahri Hamzah

REALITAS tidak boleh kita baca dari apa yang nampak saja. Tetapi dari apa yang tidak tampak. Begitulah faktanya bahwa semua perubahan besar tidak pernah bisa kita prediksi. Dia hanya nampak rasional setelah sejarawan mencatatnya di kemudian hari.

Dan kadang, sejarawan menulisnya terlalu romantis sehingga seolah semua terjadi tanpa ketegangan di sana-sini. Sejarah selalu nampak menulis sempurna realitas yang luka parah. Padahal, ketegangan lahir dari fakta bahwa kita tak tau apa-apa tentang esok.

Inikah yang membuat orang sulit berubah? Ya salah satunya. Orang-orang kebanyakan menghadapi ketegangan dengan mekanisme “membela diri” bukan mentalitas “prediktif” sehingga dilanda air bah perubahan yang mereka tak pernah mengerti. Bak katak di bawah tempurung.

Maka, membaca peta dunia ini (termasuk politik Indonesia yang sedang bergolak) janganlah menggunakan realitas fisik apa yang terjadi pada setiap kubu. Bacalah dengan apa yang kita miliki dan apa yang ada pada kita, sebab kita bukan sejarawan tetapi pelaku.

Inilah yang saya mengerti dari peristiwa Hijrah nabi dari Makkah ke Madinah yang kemudian dijadikan tonggak tahun Baru Islam. Ada yang kita lupa bahwa peristiwa hijrah itu bukan soal merancang perubahan saja tapi soal niat. Ini soal hati.

Ketika Nabi SAW mengajak hijrah fisik dari Makkah ke Madinah, beliau tidak saja sedang menyelamatkan sebuah gerakan baru, tetapi juga menyeleksi generasi baru. Sebab jika sesuatu yang baru dikehendaki maka apakah betul kebaruan itu telah tumbuh dalam diri?

Lahirlah Hadits terkenal tentang niat, Imam Nawawi meletakkannya sebagai hadits pertama dalam Hadits ARBAIN yang terkenal. Hadits yang kemudian oleh para fuqaha dijadikan dasar sahnya sebuah amal termasuk Ibadah. Bahwa NIAT adalah syarat sah semua ibadah.

”Sesungguhnya tiap amal tergantung pada niatnya. Tiap orang mendapatkan apa yang diniatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari/Muslim).

Maka, jika sebuah masyarakat baru atau gerakan baru lahir dari niat tulus dan bersih, maka tidak ada yang akan menghalanginya untuk menjadi dominan dan membesar seperti Islam dari kota Madinah. Madinah bergelar Munawarah sebuah “Kota yang bercahaya”.

Madinah lahir bukan dari pasar atau politik negara, Madinah lahir dari NIAT, karena itu ia memancarkan sinar. Bukan dari tiang listrik atau pembangkit ribuan megawatt tapi dari dalam hati. Jadilah ia pusat penyebaran ide-ide baru yang pernah menguasai 2/3 dunia.

Inilah cara sebuah keyakinan menjadi kenyataan. Niat yang tulus suci menempa hati kita untuk selalu kuat dalam semua situasi. Dan arah kita menentukan cara kita membaca peta ke depan. Jangan bergeming. Bukan karena dipuji kita percaya diri dan bukan karena dicaci kita menepi.

Inilah esensi Hijrah Arah Baru 1440 yang sedang tumbuh. Niat harus bersih, pikiran harus luas, dan gerakan harus tertata terencana. Kita semua menyaksikan yang renta dan akan musnah. Tapi apakah kita berani memulai melangkah? Selamat Tahun Baru Hijriyah 1440 H.

Sumber: Twitter @Fahrihamzah 11/9/2018

PILIHAN REDAKSI