Abad 15 Hijriyah dan Perkembangan Islam

(Refleksi 1 MUHARRAM 1440 H)

Oleh: Muh. Abid Fauzan, S.Pd.I

1 MUHARRAM 1440 Hijriyah yang jatuh pada tanggal 11 September 2018 M merupakan ajang untuk kita kembali menuju ke kebaikan yang hakiki. Momen ini juga sebagai ajang mengevaluasi diri. Tidak hanya itu, setelah evaluasi tersebut, umat juga diharapkan menyegerakan diri untuk hijrah menuju kebaikan. Jika ditinjau dari akar katanya, Muharram bermakna “diharamkan”. Pada bulan ini, siapa pun dilarang untuk mengangkat senjata, berperang dengan sesama manusia. Ada pelajaran penting di balik hal tersebut. Bahwa, Muharram dapat dijadikan tonggak sekaligus harapan untuk menyebarkan perdamaian dalam kalangan umat Islam.

Jika ditilik dari sejarah nubuwah, masa hijrah adalah fase awal mengembangkan tatanan baru masyarakat madani dibawah panji Islam yang berkeadilan untuk semua kalangan. Kita mengetahui bersama, bahwa sebakda hijrah, sang Nabi kemudian mengikat tiga unsur penting yang menghuni di Madinah dengan sebuah perjanjian yang dinamakan dengan “Perjanjian Madinah”. Bangsa Yahudi, Nashara maupun Islam dirangkul untuk menjaga negeri mereka dari serangan orang-orang di luar mereka.

Siapa sangka, bahwa momen hijrah ini adalah awal kebangkitan Islam yang sesungguhnya. Mereka kian lepas, raganya mulai merdeka atas kebengisan para pengikut paham paganisme, pun mereka bisa merancang hidup mereka menjadi lebih baik lagi. Maka tak heran, semua umat sepakat bahwa momen hijriyah adalah awal yang baik untuk kita berbenah menjadi muslim yang semakin membaik dari setahun sebelumnya.

Namun, semangat untuk bangkit dari keterpurukan kaum muslimin tidak pernah padam. Tak perlu menunggu lama, umat Islam terus berbenah. Muncullah gerakan-gerakan untuk menghimpun umat Islam dalam satu panji aqidah. Ada yang fokus terus berbenah dari dalam tubuh kaum muslimin adapula yang fokus untuk menghidupkan wilayah atau memindahkannya ke negeri lain. Tahun 1928, empat tahun setelah runtuhnya khilafah, di Mesir lahirlah Ikhwanul Muslimin. Namun, Ikhwanul Muslimin mendapat banyak penindasan dan kecaman dari musuh-musuh Islam. Dan masih banyak lagi “bendera” yang menginginkan kembalinya khalifah ketika jatuhnya di Turki.

Sekalipun sampai akhir Abad 14 Hijriyah (tahun 70 – 80-an M) masih belum membuahkan hasil, perjuangan kebangkitan Islam terus digelorakan oleh para kaum muslimin, khususnya para ulama. Justru dalam dekade 70 – 80-an itu, isu kebangkitan Islam menjadi “trending topic” di berbagai forum diskusi, seminar, halaqah di kampus-kampus, pengajian di Masjid-Masjid sampai obrolan di kafe dan tempat kerja. Seperti telah dilukiskan Akbar S. Ahmad dalam Postmodernism dan Islam (1992), dunia Islam telah memanen sejumlah peristiwa optimis kebangkitan Islam.

Momentum-momentum itu misalnya: kemenangan Mesir atas Israel dalam Perang Ramadhan (1973), tampilnya Jenderal Zia’ul Haq di pentas kekuatan Pakistan pada tahun 1977, gagasan Islamisasi pengetahuan Ismail R. Al-Faruqi dan M. Naquib al-Attas yang makin mendunia, festival Islam di London yang dibuka Ratu Elizabeth yang dihadiri tokoh-tokoh dunia, dan masih banyak lagi.

Di penghujung abad 20, terjadi pergolakan antara dunia Islam dan barat, khususnya Amerika. Negeri adidaya Amerika membantu Iran untuk menyerang Irak, perang itu disebut Perang Teluk. Inilah kemunduran yang terjadi meski harapan untuk kebangkitan Islam masih terus disyiarkan kaum muslimin. Beragamnya kelompok-kelompok Islam dalam berjuang untuk kebangkitan Islam dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk memecah belah. Merekapun memunculkan panji-panji nasionalkan di tubuh kaum muslimin dengan mencuci ‘otak’ pemikiran sebagian kaum muslimin sehigga terbentuklah kelompok-kelompok atau partai-partai politik yang sepakat untuk tidak sepakat.

Di awal abad 21, ujian Allah kepada pengusung kebangkitan Islam terus mencapai klimaksnya. Sejarah mencatat, 11 September 2001 terjadi penyerangan gedung WTC di Amerika Serikat (AS). Akibatnya, Presiden AS ketika itu memaklumatkan tuduhan kepada Islam dengan mengatas namakan “teroris” dan kemudian melakukan serangan ke Afganistan. Inilah peristiwa yang merusak citra Islam di mata dunia. Perang dan konflik kini terus mewarnai negeri-negeri Islam, salah satunya kejadian “Arab Spring” yang menghiasi abad ini. Konflik masih terus terjadi sampai hari ini, seperti Suriah dan Palestina, sehingga abad 21 M atau 15 H ini.

Walau terjadi konflik, perjuangan kebangkitan Islam terus bergelora. Seperti di negara Turki, telah melakukan langkah-langkah besarnya. Perdana menteri Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan perubahan besar dari negara sekuler kearah yang lebih Islami, seperti pencabutan larangan jilbab. Di negara-negara Barat (AS dan Eropa) sendiri penduduknya kini Islam telah banyak dianut. Bahkan di tahun-tahun kedepan akan menjadi mayoritas.

Wacana kebangkitan di dunia Islam baik di bidang ekonomi, politik, sosial-budaya, dan pertahanan justru menampakkan kemunduran luar biasa. Inilah ujian keikhlasan kita yang berjuang dalam kebangkitan Islam. Allah tetap akan memilih kelompok-kelompok Islam untuk terus berjuang di jalan-Nya. Kelompok-kelompok Islam ini haruslah bersatu, rapi, dan saling memberikan manfaat. Asas hubungan sesamanya adalah kerja sama, koordinasi dan saling menyempurnakan, bukan saling bertentangan, bermusuhan, dan pertikaian. Jika hal itu terlaksana niscaya kebangkitan Islam akan segera terwujud. Paling pentingnya, setiap gerakan perubahan Islam harus mengedepankan prinsip wasathiyah (pertengahan) dan terus menggelorakan semangat berkeadilan dan keamanan. Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah Pengurus Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia

PILIHAN REDAKSI