Apakah mayat korban bencana menimbulkan wabah penyakit?

JAKARTA (UMMAT Pos) — Sebuah laporan dari organisasi kesehatan di bawah PBB, World Health Organization (WHO) membantah pendapat yang menjadi keyakinan luas bahwa mayat korban bencana alam menimbulkan risiko kesehatan.

Terutama jika kematian disebabkan oleh trauma, tubuh sangat tidak mungkin menyebabkan penyakit, seperti tipus dan kolera atau wabah.

Kendati begitu, jenazah itu dapat menularkan gastroenteritis atau sindrom keracunan makanan bagi orang yang selamat, jika jenazah itu mencemari sungai, sumur dan sumber air lainnya.

Dalam panduan manajemen evakuasi jenazah pasca-bencana, WHO mengungkapkan setelah bencana sering ada ketakutan bahwa mayat akan menyebabkan epidemi. Namun, kepercayaan umum ini tidak didukung oleh bukti, dan sering salah dilaporkan oleh media dan oleh sebagian orang.

Namun, WHO mengakui, ada risiko -yang tidak pernah diukur atau didokumentasikan- dari air minum yang bersumber dari tanah yang terkontaminasi oleh feses (kotoran) yang dikeluarkan dari mayat kemungkinan menyebabkan diare.

Setelah meninggal, otot tubuh akan berubah menjadi rileks termasuk kandung kemih dan usus sehingga membuat kotoran yang tersisa, keluar. Penyelenggaraan jenazah korban bencana alam yang tidak benar dapat membuat kotoran ini merembes dan mengontaminasi sumber air.

Yang harus dilakukan terhadap mayat korban bencana
Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk memastikan pemakaman jenazah korban bencana tidak menyebarkan penyakit baru bagi mereka yang selamat?

Kepala Sub Tanggap Darurat Bencana PMI Pusat Ridwan S Carman menjelaskan, setelah dievakuasi, jenazah dikumpulkan, diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) dan diberi catatan untuk keperluan forensik.

“Memang seharusnya begitu ada sebuah jenazah yang kemudian ditemukan di lapangan dengan ciri-ciri tertentu itu bisa diambil dokumentasinya, minimal terkait dengan ciri-cirinya atau pakaikan yang dikenakan,” papar Ridwan.

Setelah itu, baru dimulai penguburan jenazah.

Sementara, panduan penanganan pasca bencana WHO mengungkapkan, meskipun tidak ada rekomendasi standar untuk kedalaman kuburan, disarankan bahwa lubang itu harus berada di kedalaman antara 1,5 m dan kedalaman 3 m.

Jika memungkinkan, tanah dengan tekstur berpasir dan mengandung alkali disarankan untuk mencegah kontaminasi air dan degradasi DNA mayat.

Adapun lokasi pemakaman harus setidaknya 30 meter dari mata air atau anak sungai dan 200 m dari sumur atau sumber air minum lainnya.

Pada pemakaman massal, masing-masing jenazah ditempatkan sejajar dengan jarak 0,4 m satu sama lain.

Praktik keagamaan yang berlaku dapat menunjukkan preferensi untuk orientasi tubuh dimakamkan (misalnya menghadap kiblat).

Secara berulang, WHO pun menegaskan mayat secara umum tidak menyebabkan wabah setelah terjadinya bencana. Satu-satunya alasan mayat korban bencana bisa menyebabkan risiko wabah jika korban meninggal mengidap penyakit menular seperti, ebola, kolera dan demam lassa, atau ketika bencana alam terjadi di daerah di mana penyakit semacam itu endemik.

Konsekuensi dari salah urus orang yang meninggal salah satunya adalah tekanan mental terhadap keluarga mereka serta masalah sosial dan hukum.

Justru, populasi yang bertahan hidup jauh lebih mungkin menyebarkan penyakit.

Meski demikian, ahli bidang epidemologi dan sanitasi, dokter Nyoman Kandun mengungkapkan imbas dari disrupsi lingkungan, kelangkaan air bersih, dan sampah berhamburan, bisa menyebabkan terjadinya wabah.

“Jadi ada kemungkinan ada dua jenis penyakit yang menular langsung dan penyakit yang disebabkan penularan melalui vector,” ujar Nyoman.

Warga menyaksikan proses pemakaman massal korban gempa Palu di TPU Poboya Indah, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10). Foto: Abriawan Abhe/Antarafoto

“Yang menular langsung adalah personal hygine dan environmental sanitation yang rusak, bisa muncul penyakit yang ada kaitannya dengan gastroinfestinal (muntah berak),” lanjutnya.

Maka dari itu, penanganan tanggap darurat gempa mutlak dilakukan. Kepala Sub Tanggap Darurat Bencana PMI Pusat Ridwan S Carman menjelaskan untuk mencegah wabah penyakit, penanganan korban yang selamat justru harus diprioritaskan.

“Ditengah seluruh kondisi yang serba minim, kita tetap harus berpikir higienitas menjadi hal yang sangat penting, baik dari sisi dasar, air dan makanan, juga dari sisi promosi perilaku-perilaku masyarakat yang ada disana,” papar Ridwan.

Kendati begitu, Ridwan mengakui, hingga kini kondisi air bersih masih terkendala. Saat ini, PMI sudah memobilisasi 22 unit mobil truk tangki dengan kapasitas 5.000 liter.

“Kami juga mengirimkan alat water treatment plant, atau alat pengolah air, yang itu bisa menghasilkan air dalam 8.000 liter per jam,” kata Ridwan.

“Itu langkah awal yang kami lakukan, nanti kami juga akan mendistribusikan air siap minum,” lanjutnya.

Sayangnya, baru sebagian kecil air bersih itu terdistribusikan di Palu karena terkendala akses logistik yang rusak imbas dari gempa berkekuatan besar dan gelombang tsunami.

“Akses itu memang masih menjadi kendala,” cetusnya.

Sutopo Purwo Nugroho dari BNPB mengakui kebutuhan dasar seperti makanan, pelayanan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan trauma healing masih sangat diperlukan bagi para korban yang selamat.

“Artinya, memang kita perlu waktu untuk melakukan penanganan tersebut, karena supply-demand selama gempa mengalami gangguan,” ujar Sutopo.[fm/bbc]

PILIHAN REDAKSI