2.736 Sekolah Terdampak Gempa Sulawesi Tengah

JAKARTA (UMMAT Pos) — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, ada 2.736 sekolah terdampak gempa dan tsunami. Angka itu merupakan jumlah keseluruhan yang mengalami kerusakan tetapi belum diklasifikasi tingkat keparahannya, mulai dari hancur total hingga rusak ringan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy di Yogyakarta, Rabu (3/10) pagi memastikan pemerintah akan segera membangun kelas darurat. Prinsipnya, kata Muhadjir, pendidikan tidak boleh berhenti karena bencana seperti gempa dan tsunami ini. Namun, karena berada dalam keadaan darurat, kondisi ini dapat dimaklumi. Justru kegiatan belajar penting sebagai bagian menghapus trauma anak-anak.

“Yang penting mereka masuk sekolah dulu, kalaupun pelajaran belum berjalan baik, adakan saja kegiatan rekreatif sambil menghibur dan memulihkan kondisi psikologis mereka,” ujar Muhadjir.

Daerah Sigi tercatat memiliki jumlah kerusakan tertinggi dibandingkan dengan Palu, Donggala dan Parigi Mutong.

Kemendikbud telah memiliki sebuah tim khusus terkait penyembuhan trauma, baik bagi siswa maupun guru-guru mereka. Tim ini akan segera diterjunkan ke Sulawesi Tengah, termasuk sebagian anggota tim saat ini masih bekerja di Lombok dalam program yang sama.

Guru-guru di lokasi bencana juga akan menerima tunjangan khusus. Nilainya masih dihitung, disesuaikan dengan kemampuan pemerintah. Sedangkan para siswa akan menerima bantuan peralatan sekolah. Bantuan ini akan dikirim hari Sabtu (7/10) menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.

Muhadjir menyampaikan data, lebih dari 100 ribu siswa berikut 20 ribu guru terdampak gempa dan tsunami. Sebagian guru bahkan masih berstatus hilang hingga Rabu, dan kementerian yang dipimpinnya terus melakukan pencarian dan pendataan.

Menjawab pertanyaan apakah sekolah di kawasan rawan akan direlokasi, Muhadjir menyatakan jika diharuskan maka langkah tersebut akan diambil. Pembangunan kembali sekolah-sekolah akan menjadi tugas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sedangkan sekolah yang mengalami kerusakan ringan akan ditangani Kemendikbud.

Selanjutnya, ada tiga tahap yang akan dilewati dalam proses ini. Untuk saat ini, kementerian akan membangun kelas darurat yang menggunakan standar organisasi pendidikan internasioal PBB, UNICEF. Kemudian pemerintah melalui Kementerian PUPR akan membangun sekolah darurat setidaknya dalam tiga bulan. Tahap terakhir adalah membangun kembali sekolah permanen, yang biasanya membutuhkan waktu setahun.

“Sabtu saya akan ke sana untuk memastikan, mengecek langsung di lapangan, kita akan cek tingkat kerusakannya, kemudian kita prioritaskan untuk kegiatan belajar harus segera dimulai apapun kondisinya. Kelas darurat dalam bentuk tenda akan kita utamakan, kemudian bantuan peralatan sekolah, terus guru akan kita kumpulkan, kita berimotivasi agar segera mengajar,” kata Muhadjir Effendy.

Kemendikbud menyarankan kelas darurat dibangun di dekat sekolah yang hancur. Langkah ini untuk menjaga psikologis siswa agar mereka merasa kembali ke sekolah. Pemerintah pusat sendiri menjanjikan akan terlibat dalam seluruh proses, meski sebenarnya banyak kewenangan telah dilimpahkan ke daerah.[fm]