Gempa dan Tsunami: Antara Aceh dan Palu

Oleh: Dr. Ilham Kadir*

SAAT gempa dan tsunami mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004. Saya berada di Pulau Pinang Malaysia. Saat itu sedang ujian akhir untuk menyelesaikan program sarjana muda di Arabic and Islamic College of Al-Ihsaniyah. Sekolah tinggi ini bekerjasama dengan Universitas Al-Azhar, tiga tahun di Al-Ihsaniyah, setahun atau dua tahun di Al-Azhar Mesir.

Pulau Pinang adalah negeri bagian di Malaysia yang paling parah terkena gempa dan tsunami di luar Indonesia. Saat itu saya rasakan getaran begitu hebat, teman-teman yang menyewa rumah di perumahan kelas menengah langsung berhamburan keluar rumah. Saya paling di belakang karena saat gempa, saya berada di kamar kecil.

Tidak berapa lama setelah gempa disertai tsunami yang menggoncang Aceh (Indonesia) dan Pulau Pinang (Malaysia), dan sepuluh negara lainnya, pemerintah Indonesia langsung bekerja. Menetapkan sebagai bencana nasional, lalu datang bantuan dari pelbagai pihak, dalam dan luar negeri.

Kalau bantuan logistik berupa makanan, pakaian, sarana menampung pengungsi, rumah ibadah, sekolah, pasar, dan sejenisnya, bisa kita terima.

Lha, ini yang datang pasukan bersenjata lengkap dengan senjata dan pesawat helinya yang bisa dipakai bertempur.

Saya termasuk nyinyir waktu itu, berkata, Ini bukan lokasi perang, kenapa yang datang justru militer, apakah militer kita tidak mampu bekerja sehingga harus impor. Untuk apa mereka digaji kalau tidak dimanfaatkan!”

Begitu kira-kita nyinyiran saya yang masa itu masih di Malaysia. Nyinyir sambil baca Akhbar (Koran) “Metro” surat kabar paling laris di Malaysia waktu itu.

Masa berlalu, tak terasa, waktu itu sudah 14 tahun. Rekan-rekan yang dulu sama-sama belajar, baik di Kolej MARSAH Johor maupun Al-Ihsaniah Penang, sudah bertebaran entah kemana. Saya pun terdampar di Enrekang, Sulawesi Selatan. Mungkin rekan-rekan sudah ada yang jadi guru besar, pejabat penting, atau tokoh dan dai yang masyhur. Saya hanya tinggal di sebuah kota kecil, pasarnya dua kali seminggu, Senin dan Kamis. Di sini saya berbuat apa yang bisa bermanfaat untuk diri, keluarga, dan orang lain.

Kembali ke Gempa dan Tsunami. Jumat, 28 Setember 2018, pukul 17.58 saya rasakan gempa, sewaktu akan masuk masjid, pohon mangga depan masjid dan lampu gantung bergerak hebat. Ternyata episentrum gempa berada di Palu, tidak hanya gempa tapi tsunami juga.

Di mana masalahnya? Ada yang berbeda dalam penanganannya. Jika dulu pemerintah jujur mengakui bahwa ini musibah nasional sehingga masyarakat bahu-membahu menyalurkan bantuan, termasuk impor militer dari berbagai negara.

***

Berikut saya kutip berita asli terkait pasukan impor.

“Bencana tsunami yang meluluhlantakkan Aceh membuka gerbang yang selama ini terkunci bagi tentara maupun jurnalis asing.

Lebih dari 14 ribu personel tentara AS beroperasi di lepas pantai Sumatera untuk memberikan bantuan pada penghujung tahun 2004 itu.

Mereka juga mengerahkan 57 helikopter untuk menjalani ratusan misi kemanusiaan. Singapura mengirimkan 7 buah pesawat masing-masing 1 buah pesawat Singa 6151 yang di standbykan di Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, 4 buah Helikopter Chinook dan 2 buah pesawat Hercules C-130 yang disiagakan di Lanud Medan. Malaysia 2 buah pesawat M 23-15 dan M 23- 22 masing-masing di standbykan di Lanud SIM, Banda Aceh. Amerika Serikat 14 pesawat masing-masing 3 buah pesawat Hercules C-130 Sky Hawk disiagakan di Medan, 4 buah Hercules C-130 di Lanud Halim PK Jakarta dan 7 buah pesawat Helikopter di Lanud SIM Banda Aceh. Perancis mengerahkan 5 buah pesawat masing-masing 1 pesawat C-160 di Lanud Medan dan 4 buah Helikopter Puma. Jepang 1 pesawat Hercules C-130/35-1072 di Lanud SIM Banda Aceh. New Zeland 1 pesawat Kiwi 790 di siagakan di Halim PK Jakarta. Jerman 2 buah Helikopter Sea King. Australia 4 buah pesawat Bell 205 Iroquios.

Khusus AS, mereka mengerahkan armada kapal induk Abraham Lincoln, yang terdiri dari kapal Induk USS Shiloh, kapal perusak USS Benfold langsung dari San Diego, AS yang dipimpin Laksamana Muda Doug Crowder. Operasi mereka bukan hanya dalam angkutan udara saja, tetapi juga dalam membangun prasarana dan memberi bantuan kesehatan.” (www.merdeka.com, 25/2014).

***

Sekarang, baru saya mengerti kenapa saat itu harus ada bantuan pasukan militer dari luar. Terbukti, saat ini, pasca gempa, masyarakat di sana seakan hidup tak bertuan. Korban gempa justru jadi korban kanibalisme, barang-barang mereka dijarah, baik di toko maupun di rumah. Banyak perampok masuk rumah, mengancam penghuninya agar menyerahkan harta bendanya, seperti uang dan emas, bahkan surat-surat berharga.

Toko-toko tempat mereka berusaha mencari mencari nafkah habis dijarah. Semuanya habis tak tersisa. Barang-barang jualan seperti onderdil motor dan mobil habis dikanibal, jangan tanya bagaimana jualan elektronik, jam tangan, dan pakaian!

Daerah ini seperti lahan tak bertuan. Bantuan yang masuk dijarah di tengah jalan, baik mereka yang benar-benar ingin bertahan hidup atau yang memanfaatkan kesempatan dalam situasi kacau. Pada akhirnya bantuan akan susah sekali masuk titik sentral bencana. Atau pada daerah-daerah yang belum bisa dijangkau oleh relawan. Mayat-mayat bergelimpangan, dan para elite sibuk urus pemenangan calon presidennya. Presiden yang turun sebanyak dua kali dalam seminggu belum terlihat hasilnya secara signifikan.

Kapan ini berakhir? Entahlah, yang jelas mereka butuh bantuan, makanan, pakaian, air bersih, MCK, dan yang terpenting adalah kepastian keamanan. Semoga penghuni negeri ini mampu mengambil hikmah dari musibah nasional ini. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami!

Enrekang, 4 Okt. 2018.

*) Relawan BAZNAS

PILIHAN REDAKSI