Rupiah capai titik terlemah selama dua puluh tahun terakhir

JAKARTA (UMMAT Pos) — Bank Indonesia (BI) mencatat kurs referensi rupiah yang telah mencapai Rp 15.182 per dollar AS pada 5 Oktober 2018. Menurut ekonom Indef, Bhima Yudhistira, posisi mata uang garuda saat ini menjadi yang “terlemah sejak krisis 1998.”

Menurutnya, tekanan global dan domestik sama-sama berperan melemahkan rupiah. Kondisi ekonomi Eropa mengkhawatirkan dengan ketidakpastian pasca keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan parlemen Italia.

Dari dalam negeri, perekonomian terpukul kenaikan harga minyak yang kini lebih dari US$85 per barel. Akibatnya, defisit neraca transaksi berjalan (CAD) terus melebar, dan impor migas akan menyedot devisa secara alami.

Jika terus berlanjut, dampak pelemahan rupiah adalah risiko gagal bayar hutang swasta yang tinggi. Perusahaan swasta juga dikhawatirkan akan menunda pengembangan usaha dan jika terdesak bisa memutuskan untuk PHK massal.

Masyarakat akan mulai merasakan dampak kenaikan barang kebutuhan pokok. Meskipun bulan Agustus dan September terjadi deflasi, namun data menunjukkan bahwa pedagang dan produsen sedang menurunkan marjinnya karena kenaikan harga jual untuk konsumen bisa berarti turunnya omset.

“Dilematis. Pertanyaannya pedagang kuat potong marjin sampai kapan? Belum lagi cepat atau lambat harga BBM akan disesuaikan. Ini pukulan kedua bagi daya beli masyarakat,” kata Bhima.

Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut, dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan menjadi stagnan. “Secara umum sampai 2020 ekonomi indonesia akan diterpa badai besar. Pertumbuhan tahun ini diprediksi hanya 5-5,1 %,” kata dia.

Menurut Bhima antara lain, pemerintah harus menekan defisit neraca transaksi berjalan melalui pengendalian impor 10 barang terbesar. Caranya, dengan menaikkan bea masuk dan memperketat kebijakan anti dumping. Pemerintah juga diminta memberikan insentif lebih besar dan jaminan kurs preferensial kepada pengusaha agar segera menukar devisa hasil ekspornya dengan rupiah.[fm/bbc]

PILIHAN REDAKSI