Target investasi Rp630 triliun lewat pertemuan IMF, apakah masuk akal?

BALI (UMMAT Pos) — Pemerintah Indonesia akan menawarkan investasi sebesar US$42 miliar atau sekitar Rp630 triliun selama pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF pada 2018 yang akan diselenggarakan pada 8-14 Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali.

Namun apakah target itu masuk akal mengingat pertemuan IMF bukanlah sebuah pameran perdagangan?

Ekonom David Sumual seperti mengatakan tak menampik hal itu, namun dia juga menjelaskan bahwa pertemuan itu dapat dijadikan sebagai “ajang perkenalan untuk memperkenalkan bahwa Indonesia memiliki proyek-proyek yang bisa digarap ke depannya.”

“Dan ini kan banyak pebisnis, investor juga yang datang yang mungkin nanti akan tertarik dan melihat kondisi Indonesia sebenarnya,” ujar David seperti dikutip BBC, Ahad, (7/10/2018).

Di sisi lain, pemerintah berencana untuk menunda pembangunan sebagian proyek infrastruktur untuk menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit), sedang infrastruktur adalah pemikat bagi penanaman modal asing (foreign direct investment).

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan memastikan momentum akan tetap berjalan dengan membangun infrastruktur yang benar-benar penting yang terus mendukung pertumbuhan dan menunda infrastruktur yang bisa ditunda yang tidak akan secara langsung mempengaruhi pertumbuhan.

“Ini respons jangka pendek sambil kita mengelola isu yang sifatnya fundamental seperti daya saing, porduktivitas,” kata Sri Mulyani.

“Dalam hal ini tidak ada kontradiksi, yang ada penyesuaian yang untuk mencari keseimbangan antara menjaga momentum pertumbuhan ekonomi terus berjalan, sustainability dari perjalanan pertumbuhan ekonomi itu sendiri dengan keinginan untuk menjaga stabilitas dan daya tahan ekonomi. Dan itu selalu dilakukan dengan policy mix,” imbuhnya.

Untuk diketahui, pinjaman multilateral oleh Indonesia sebesar Rp 396,02 triliun. Terbesar dari World Bank Rp 249,67 triliun atau 63,0%. Sisanya Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar Rp 130,28 triliun atau 32,9%, dan Bank Pembangunan Islam (IDB) sebesar Rp 12,7 triliun atau 3,2%. [fm/bbc/dtk]

PILIHAN REDAKSI