Antara Khabib Nurmagomedov dan Hukum Tinju

Rapung Samuddin*

ITULAH yang sering kami ulangi. Bahwa memang ada kelompok yang kerjanya hanya ingin tampil beda. Asal beda dengan kaum Muslimin yang lain, itu sdh menjadi kebanggaan bagi mereka. Demikian pula, doktrin bahwa seorang Ustadz atau pejuang Islam itu harus sempurna, menjadikan sikap mereka sangat aneh bin mengesalkan. Kendati dibungkus dengan dalih nasehat.

Lihatlah kasus yang lagi viral di seluruh dunia, tak terkecuali kaum Muslimin di Indonesia. Yakni ghirah Islam seorang atlet MMA, Khabib asal Dagestan (Rusia) yang mengalahkan Mc Gregor serta menyerang tim offisialnya yang menghina Islam. Oleh kaum Muslimin, di seluruh dunia beliau mendapat pujian dan kata salut. Sebab yang dia lakukan benar-benar lahir dari ghirah Islam. Kendati bonus dan karirnya terancam.

Nah, di saat euforia kaum Muslimin itulah, tampil kelompok yg memang selama ini terkenal selalu merasa paling benar dan paling berhak membela Islam. Mereka lalu berupaya mengkanter kegembiraan kaum muslimin tersebut dengan menyebarkan artikel-artikel yang memuat fatwa-fatwa haramnya olahraga Tinju. Seakan apa yang dilakukan oleh Khabib itu tdk ada sedikit pun kebaikannya. Juga, seakan mereka yang bergembira dengan sikap Khabib mendukung olahraga tinju yang diharamkan.

Padahal itu merupakan dua hal yang berbeda. Anggaplah profesi dia terlarang, maka atas dasar apa kita tidak memberi apresiasi atas pembelaannya terhadap agama Allah? Para shahabat, Tabi’in, Atba’ At-Tabi’in, serta imam-imam salaf, tidak ada yang kemudian mempersoalkan profesi zinanya seorang wanita yang menolong anjing kehausan, yang karenanya Allah berterima kasih padanya, lalu mengampuni dan memasukkannya ke dalam surga, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Shahih.

Padahal haramnya zina lebih besar daripada tinju. Bahkan membela agama Allah di tengah-tengah masyarakat yang phobia terhadap syariat Islam jauh mengungguli perbuatan memberi minum anjing kehausan. Jadi sekali lagi, ini adalah kasus yang berbeda.

Salut kepada Khabib bukan berarti membenarkan profesinya (bagi yang menganggapnya haram), sebagaimana salut kita kepada wanita pezina yang memberi minum anjing kehausan bukan berarti membenarkan profesinya sebagai pezina. Dan ini merupakan perkara lazim bagi mereka yang punya sedikit bashirah, ilmu, dan ghirah terhadap agamanya.

Jadi, kalau toh mau nyebarin artikel-artikel itu, tunggu saja moment yang tepat. Biarkan dulu kaum Muslimin bergembira dengan aksi heroik Khabib. Sebab, tidak semua apa yang diketahui itu layak disampaikan. Dan pada setiap waktu dan tempat ada ilmu dan pembicaraan yang pas baginya. Yang demikian agar tidak menjadi fitnah dan bahan olok-olokan. Sukakah kalian jika agama Allah diolok-olok?.

*) Seorang Pegiat Media Islami