Kisah Korban Gempa Donggala, Gadaikan Cincin Nikah Demi Pertahankan Hidup

DONGGALA (UMMAT Pos) — Gempa 7,4 SR yang mengguncang Palu, Donggala dan sekitarnya, menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggalnya dan memilih menghuni tenda pengungsian.

Diantara mereka ada yang mencari dataran tinggi untuk menghindari gempa dan tsunami susulan, dengan membawa kebutuhan seadanya.

Warga Desa Sipi, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Mayoritas warga di desa ini menyelamatkan diri dan mendirikan tenda-tenda pengungsian di perbukitan.

Salah satunya adalah Juliadi, pria berusia 33 tahun yang mendirikan tenda bersama seluruh anggota keluarganya.

Mayoritas warga telah kehilangan rumahnya, ungkap Juliadi. Bahkan ketika gempa terjadi, karena melihat air laut yang mulai pasang, warga kemudian beramai-ramai berlari jauh ke dalam hutan hingga yakin keadaan telah aman.

“Kami sudah tujuh hari pak kesulitan mendapatkan bantuan, ada beberapa warga yang kami utus ke pusat pembagian bantuan, namun yang didapat hanya sedikit. Satu kepala keluarga hanya mendapatkan satu bungkus mie instan, dan satu kilogram beras,” ungkapnya, Ahad (7/10/2018)

Bahkan, tutur dia, sudah dua hari banyak warga yang kelaparan, karena akses menuju desa yang terputus beberapa hari.

“Saat awal gempa terjadi, kami masih memiliki uang, namun memasuki hari ke empat, uang kami habis dan terpaksa menjual dan menggadaikan barang-barang berharga yang kami miliki,” ujarnya.

Bahkan, Juliadi bersama istri harus menggadaikan cincin pernikahannya untuk membeli bahan makanan.

“Harta terakhir yang saya miliki adalah cincin itu pak, kalau kedepannya bagus rejeki, baru saya tebus,” ujar bapak tiga anak ini.

Untuk sumber air, lanjutnya, warga mengandalkan aliran air yang berasal dari gunung. Baik untuk mandi, masak hingga minum.

“Air ini berasal dari bukit di atas sana pak, disana ada perkampungan, sehingga pembuangan mereka suatu saat bisa ikut terbawa. Ini sudah banyak warga yang batuk-batuk dan diare,” ujarnya.

Jalur transportasi darat menuju desa ini terputus selama enam hari karena longsoran bukit yang menutupi badan jalan, namun dua hari terakhir telah berhasil dibuka karena kebutuhan warga yang sudah sangat darurat karena tidak masuknya logistik.

Camp pengungsian warga di desa ini terletak di atas bukit, dikelilingi oleh hutan belantara. Kata warga setempat, untuk menghindari terjangan tsunami.

Ketika Relawan LAZIS Wahdah melakukan penyisiran, untuk mencapai Camp pengungsian tersebut, relawan harus menempuh jalan sempit yang penuh dengan bebatuan dan semak belukar sejauh 3 kilometer.

Warga setempat berharap, logistik yang disalurkan oleh LAZIS Wahdah menjadi ‘magnet’ untuk bantuan selanjutnya, termasuk yang menjadi harapan warga adalah pendirian hunian sementara yang memiliki kakus dan dapur umum.

Laporan: Rustam Hafid (Tim Relawan Wahdah Peduli)
Editor: Faisal

PILIHAN REDAKSI