Sore ini akhir evakuasi gempa Sulteng, apa rencana selanjutnya?

PALU (UMMAT Pos) — Kamis sore ini, 11 Oktober 2018, menjadi akhir dari proses pencarian dan evakuasi korban gempa bumi di Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan di Kota Palu yang juga terjadi tsunami, pada 28 September 2018.

Perkembangan informasi yang dikeluarkan oleh Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Sulawesi Tengah, dari bencana alam itu telah dapat dievakuasi 2.065 mayat.

Bila ditanya seberapa banyak korban gempa yang belum dapat dievakuasi dari tiga lokasi padat penduduk itu? Patut diduga dalam bilangan ribuan orang.

Setelah menghentikan pencarian korban bencana alam di Sulawesi Tengah, Kamis (11/10), pemerintah berfokus membangun ulang kota-kota yang terdampak selama dua tahun ke depan.

Sejumlah pengamat mendorong pemerintah segera memindahkan korban dari barak pengungsian ke hunian sementara.

Namun kesadaran kolektif tentang kerawanan hidup di daerah penuh potensi bencana alam disebut tak kalah penting dibanding pembangunan ulang pemukiman.

Pemerintah berencana membangun hunian sementara di Kelurahan Duyu untuk pengungsi dari Balaroa, Palu dan kawasan Ngata Baru untuk pengungsi dari Petobo.

Balaroa dan Petobo merupakan pemukiman yang hancur akibat likuifaksi. Dua daerah itu, masing-masing diperkirakan awalnya terdiri dari 1.471 dan 2.050 rumah.

Sementara itu, pemerintah masih mencari lahan untuk hunian sementara bagi pengungsi dari Jono Oge, daerah yang juga hancur akibat likuifaksi.

Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyebut hunian sementara akan dibangun setelah Badan Geologi menuntaskan kajian potensi bencana di lahan relokasi.

Sutopo berkata, terdapat prosedur yang harus dilewati sebelum hunian sementara dibangun.

“Badan Geologi akan meneliti, apakah daerah itu aman dari potensi likuifaksi atau gempa. Lalu Kementerian Agraria mengubah izinnya untuk pemukiman.”

“Perlu survei. Kementerian Perumahan butuh waktu dua bulan untuk hunian sementara, karena ada ribuan yang harus bangun,” kata Sutopo di Jakarta.

Setiap hunian sementara, kata Sutopo, membutuhkan anggaran sekitar Rp8 juta hingga Rp15 juta. Setelah pemukiman permanen selesai didirikan, rumah semipermanen itu akan dirubuhkan.

Sutopo menyebut anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi masih dihitung. Yang jelas, pendanaan akan bersumber dari anggaran kementerian dan lembaga negara, serta pihak swasta yang dikumpulkan ke satu rekening milik Palang Merah Indonesia.

Asalkan semua kementerian dan lembaga berkomitmen, mereka akan mengubah anggaran tahunan, menggesernya untuk Palu. Itu akan diatur Bappenas dan Kementerian Keuangan,” ucapnya.

Sekretaris Badan Geologi, Antonius Purba, menyatakan lembaganya akan menyelesaikan kajian potensi bencana kawasan relokasi dalam tiga pekan ke depan.

Penelitian berbentuk peta itu, kata Purba, tengah dikerjakan 26 peneliti Badan Geologi. “Peta rekomendasi itu harus akurat,” ujarnya.

Sumber: BBC | KBN Antara

Faisal

PILIHAN REDAKSI