Emak-emak jaman now dan tantangan khalwat

Ketika tamu pria bertandang ke rumah

MAMPU melaksanakan perintah agama merupakan kebahagiaan dan seharusnya jadi kebanggaan. Karena pada akhirnya akan mengantarkan kita pada keselamatan.

Hal ini karena sebagian kita paham soal hukum agama di usia dewasa bahkan tak sedikit yang sudah berusia tidak muda lagi.

Kita masih berproses, terus belajar dan sebagainya. Tak sedikit hukum-hukum yang baru kita pahami dan saat akan melaksanakannya dan berusaha istiqamah maka jadinya seperti sebuah tantangan tersendiri.

Tantangan yang memerlukan perjuangan tersebut, ditambah deg-degan, kadang ada lucunya juga. Ambil contoh syariat Allah tentang larangan berkhalwat, wabil khusus emak-emak di kampung yang budaya sopan santunnya sangat tinggi, hingga dalam beberapa hal sampai mengabaikan tuntunan syariat.

Saat ada tamu pria bertamu, mengetuk pintu rumah sementara suami sedang tak ada, dan tidak ada pula orang lain yang menjadi mahramnya. Di satu sisi kita tahu berduaan dengan yang bukan mahram adalah tidak boleh, sementara menolak tamu juga sikap yang sangat tidak sopan dalam budaya daerah itu.

Nah, disinilah letak tantangannya.
Bagaimana usaha kita supaya tetap menegakkan syariat (tidak berkhalwat, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram) tanpa menimbulkan kesan kurang baik pada tamu?

Maka beragamlah cara emak-emak menyiasatinya. Ada yang telpon mahramnya dulu (misal adik laki-lakinya) yang rumahnya berdekatan agar datang ke rumah sehingga saat membuka pintu untuk tamu laki-laki ia sudah tidak berduaan lagi. Bahkan ada yang bingung sehingga ia tetap diam di dalam sehingga tamu pria yang datang balik lagi karena menyangka tidak ada orang.

Tapi ada pula yang memilih keluar rumah, lalu dengan lugas menjawab salam, lalu dengan sopan bilang pada tamu pria tadi, “maaf bapak sedang tidak di rumah, ada pesan apa buat beliau nanti saya sampaikan, atau bapak bisa kemari lagi di lain waktu”.

Ada juga yang menjawab seperti di atas hanya saja dia tidak keluar rumah, hanya membuka sedikit pintu.

Kasus lain adalah saat emak-emak naik taxi, naik ojek, atau pergi bersama sopir, atau saat bersama suami tapi suami turun dan ia berdua bersama sopir, dan lain-lain, sebagainya.

Demikianlah satu contoh tantangan dan romantika melaksanakan perintah Allah, dan disana maasih banyak guidence dari Allah baik berupa perintah maupun larangan yang terus kita perhatikan, seperti perintah hijab, larangan ghibah, mencegah suami merokok, mengkondisikan suami dan anak anak agar disiplin shalat 5 waktu di masjid, dan lain sebagainya.

Tapi satu yang pasti.. bahwa semangat hijrah kita harus tetap menyala.. dan menganggap bahwa kesulitan dan tantangan memenuhi ketaatan pada Allah adalah sebuah anugerah kehormatan …

====
NB:
Dalil larangan khalwat (berduaan tanpa mahram):
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.”(HR. Ahmad dari hadits Jabir 3/339. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil jilid 6 no. 1813).

Wallahu a’lam

Penulis: Mas’ud Abu Abdillah