Catatan Redaksi: Mereka yang dihadang di bandara

JAKARTA (UMMAT Pos)  — Fenomena penghadangan tokoh dan ulama Indonesia di bandara sudah berulang kali terjadi. Peristiwa penghadangan terbaru dialami oleh Tokoh Front Pembela Islam (FPI), Habib Bahar bin Ali bin Smith di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, (15/10/2018).

Berikut ini, empat penghadangan di bandara yang berhasil dirangkum redaksi.

1. KH. Tengku Zulkarnain Dihadang di Bandara Susilo, Sintang, Kalimantan Barat

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI), KH. Tengku Zulkarnain menjadi ulama pertama yang dihadang oleh masyarakat di Bandara. Tengku ditolak kedatangannya oleh sejumlah pemuda Dayak di Bandara Susilo Sintang, Kalimantan Barat, Kamis (12/1). Bahkan, ia sempat tidak bisa keluar dari pesawat.

“Saya tak turun dari pesawat. Mereka menghunuskan mandau (golok), saya diserbu saat muncul di depan pintu,” kata Tengku.

Kedatangannya ke Sintang atas undangan bupati Sintang dan MUI Sintang, dalam rangka acara maulid Nabi Muhammad SAW. Sampai di Sintang, Tengku mendapati sudah ada sekitar 30 orang dengan pakaian khas Dayak membawa mandau dan membentangkan spanduk “Menolak FPI Pemecah Belah NKRI harus dibubarkan!”.

“Dan mereka menolak kami bertiga. Herannya dari mana mereka tahu kami ada bertiga? Sudah dijelaskan kami MUI mereka tetap menolak,” katanya.

2. Fahri Hamzah Dihadang di Bandara Sam Ratulangi, Manado

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengalami penghadangan saat hendak mengunjungi Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Akibat adanya aksi tersebut, akhirya pria asal Sumbawa ini harus dievakuasi melalui pintu darurat.

Bahkan, saat itu massa membawa senjata tajam. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu 13 Mei 2017. Penolakan dari sekelompok masyarakat Sulawesi Utara karena dihembuskan isu bahwa Fahri Hamzah adalah Sekjen FPI dan pro-koruptor.

Walaupun sempat mendapatkan penolakan, rombongan Wakil Ketua DPR tersebut tetap bisa ke acara Dialog Kebangsaan di Kantor Gubernur Sulawesi Utara.

3. KH. Sobri Lubis Dicekal di Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat

Ketua Umum DPP FPI, KH Achmad Sobri Lubis (ALS) dihadang kedatanganya oleh sejumlah orang di Bandara Supadio, Pontianak, pada Jumat (05/05/2017) malam. Awalnya, kedatangan Ketum FPI ini untuk menghadiri cara Tabligh Akbar di Masjid Al Falah, Menpawah.

Menurut Sekretaris Dewan Perwakilan Daerah FPI Kalimantan Barat, Syarif Kurniawan pada Sabtu (06/05), pengadangan ini diduga akibat pidato Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis. Pasalnya, politisi partai PDI-P tersebut dalam orasinya sempat berjanji akan menolak kehadiran tokoh FPI Habib Rizieq Shihab dan KH Tengku Zulkarnaen.

Syarif menuturkan bahwa kedatangan KH Achmad Sobri Lubis ke Kalbar murni atas undangan pengurus Masjid Al Falah, Kabupaten Menpawah, Kalimantan Barat untuk mengisi tabligh akbar memperingati Isra Mi’raj 1438 H.

“Gubernur ini sangat provokatif, kami minta semuanya menyuarakan kecamannya atas tindakan dan pernyataannya terhadap Ulama kita,” tegasnya.

4. Rombongan FPI Dihadang di Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara

Rombongan DPP FPI yang diantaranya adalah Pimpinan FPI Ustadz Ja’far Shodiq dihadang di Bandara Internasional Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara oleh ratusan orang yang mengklaim sebagai pemuda dayak pada Sabtu (14/07/2018). Mereka menolak kedatangan pimpinan FPI yang akan meresmikan FPI di Kalimantan Utara.

Gerombolan massa menolak kedatangan rombongan FPI dari Jakarta sambil membawa spanduk penolakan pembentukan FPI di Kalimantan Utara. Mereka juga meneriakkan yel yel, “Bakar FPI Sekarang juga”

5. Neno Warisman Dihadang di Bandara Hang Danim, Batam

Ketua Gerakan Ibu Negeri (GIN), Neno Warisman pun sempat menerima penghadangan di Bandara Hang Danim, Batam pada Sabtu 28 Juli 2018. Neno ke Batam hendak melakukan deklarasi #2019GantiPresiden.

Ketika itu, Neno terisolasi di Bandara selama tujuh jam dalam keadaan AC mati dan tidak ada makanan.

Neno mengatakan, menurut keterangan yang didengar dari pihak panitia, masyarakat Batam sudah pada bersikap atas adanya penolakan atas kedatangannya. Masyarakat Batam pun banyak yang tidak akan terima begitu saja pelarangan yang tidak berdasar ini.

‘’Saya sendiri ketika tertahan di Bandara ini merasa aneh. Seharusnya (bandara Hang Nadim) sebagai wilayah obyek vital kan tidak boleh dijadikan tempat unjuk rasa. Kok ini malah diizinkan dan bahkan jumlahnya bertambah,’’ kata Neno.

Dia mengatakan akan terus di Bandara Hang Nadim sampai suasana mereda dan massa yang menghalanginya tak ada lagi. Neno pun merasa aneh, sebab ia tidak melanggar hukum.

’’Gerakan #2019GantiPresiden tidak melanggar hukum dan konstitusi. Melarang kegiatan ini adalah cara yang aneh dalam demokrasi. Hak menyatakan pendapat dijamin dalam UUD,’’ kata Neno menegaskan.

6. Habib Bahar ditolak Ormas Adat di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, (15/10/2018).

Ratusan orang dari ormas adat menolak kedatangan Habib Muhammad Bahar bin Ali bin Smith di Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Habib Bahar rencananya menghadiri Tabligh Akbar di Masjid Alwi bin Smith, Kelurahan Karame, Kecamatan Singkil.

Massa yang menolak kedatangannya beralasan karena Habib Bahar merupakan pimpinan Front Pembela Islam (FPI). Menurut massa, dalam ceramah Habib Bahar yang beredar di media sosial, Habib Bahar juga kerap melontarkan ceramah yang memprovokasi umat Islam untuk melakukan kekerasan.

Penolakan dilakukan oleh ormas adat Laskar Manguni Indonesia (LMI) di bawah pimpinan Steven Kembuan dan ormas adat Minaesa tou Indonesia yang dipimpin oleh Donny Daniel Lasut.

Laporan: Abdullah Jundii

Editor: Faisal

PILIHAN REDAKSI