Sudah berhenti merokok, apakah masih bisa kena sakit paru-paru?

Pertanyaan:

Langsung saja pak dokter, pertanyaan saya, kalau kita sudah berhenti merokok, apakah masih berpotensi terkena sakit paru-paru?

Apakah pak dokter pernah mendengar atau membaca soal adanya larangan merokok secara spesifik dalam kitab suci?

Penanya Fajri di Gowa, Sulsel

Jawaban:

Tergantung berapa lama dan seberapa berat ia merokok? Perokok berat akan menghabiskan minimal 1bungkus per hari. Nah, satu titik kanker mengandung jutaan sel kanker di mana butuh waktu minimal 3 tahun di dalam terbentuknya satu titik kanker tersebut.

Jika hal ini terbentuk dan masuk ke fase progresif maka bukan hanya rokok saja sebagai “pupuk”nya, ini bisa dipicu dari makanan dan minuman yang berbahan kimia. Makanan dan minuman yang menginduksi zat kimia tertentu dapat menginduksi pertumbuhan selanjutnya.

Jadi, apakah setiap perokok bisa timbul penyakit seperti kanker tidak mesti bisa juga penyakit paru lainnya seperti penyumbatan saluran udara dalam paru-paru yang paling banyak.

Hal lainnya yang juga sangat memepengaruhi adalah sistem kekebalan tubuh orang tersebut dan kemampuan untuk membersihkan toksin yang terakumulasi di dalam tubuhnya.

Selain sistem imun tadi, faktor lainnya tergantung pada gaya hidup sehat atau tidak. Faktor selanjutnya adalah makan sehat.

Semakin cepat seorang perokok menghentikan kebiasaan buruknya itu, maka semakin baik buat dirinya. Hal ini karena usahanya akan memutuskan rantai suplai toksin atau racun akibat terpapar asap rokok, termasuk dengan tidak menjadi perokok pasif.

Oiya, di dalam kitab suci alquran dan hadis tidak ada larangan merokok secara spesifik. Hal ini sering menjadi dalih mereka yang tidak mau berhenti merokok, sebagai pembenaran. Padahal ulama adalah sebaik-baik rujukan terkait ini. Anda bisa menanyakan lebih lanjut kepada ustaz atau guru agama.

Namun, saya hanya ingin memberi pandangan bahwa banyak hal yang tidak diperinci dalam kitab suci seperti makan tahu dan tempe misalnya. Tapi kita diwajibkan bersyukur atas karunia sehat dengan cara yang toyyib, baik dan berkah serta menghindarkan diri dari penyakit. Itu juga perintah agama.

Terima kasih

Dijawab oleh dr. Suwardi Syukri (dokter integratif medicine)