Status anak angkat dan rambu syariat seputar adopsi anak

MEMBANTU meringankan beban orang lain yang lemah ekonominya dengan menjadi orangtua asuh memang mulia, tetapi sebelumnya, tahukah Anda bahwa ajaran Islam yang paripurna ini juga telah mengatur secara khusus panduan dan batasan-batasan dalam mengambil anak angkat?

Panduan dan hukum-hukum terkait status anak angkat ini penting dipahami guna mencegah terjadinya kezaliman, pelanggaran hak-hak bagi yang terlibat di dalamnya.

Diantara hal-hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa:

1. Menganggap anak angkat sebagai anak kandungnya.

Anak angkat tetaplah anak kedua orangtua anak itu bukan anak kita. Sehingga batas ini harus kita fahami dan dijadikan dasar bahkan panduan muamalah kita dengan anak angkat.
Maka kita tidak boleh menamakannya dengan nama kita, juga dalam warisan tetap beda dengan anak kita, dan sebagainya.

{وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ}

“Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)” (QS al-Ahzaab: 4).

2. Larangan memanggilnya dengan nama kita (menasabkan kepada kita, misal memaanggilnya dengan fulan bin nama kita), atau bahkan memasukkannya ke dalam akta keluarga sebagai anak kita.

Allah Ta’ala berfirman:

{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu Dan tidak ada dosa bagimu terhadap apa yang kamu salah padanya, tetapi (yang ada dosanya adalah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS al-Ahzaab: 5).

3. Menganggapnya Mahram sehingga bebas bersentuhan saat sudah baligh.
Padahal mengangkat anak tetap tidak merubah hukum bahwa anak angkat yang sudah baligh dan beda jenis kelamin adalah bukan mahram.

Maka saat ia sudah baligh maka berlaku semuruh hukum non mahram, seperti dilarang bersentuhan dan berduaan.

4. Memberikan hak waris sebagaimana anak kandung.

Ini termasuk kesalahan dalam praktek mengangkat anak, karena anak angkat dalam Islam bukanlah ahli waris, berbeda dengan anak kandung.

Jika mau memberi maka bukan warisan tetapi wasiat (maksimal sepertiga harta).

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengangkat anak agar terhindar dari kesalahan dan pelanggaran terhadap syariat. Wallahu a’lam

Ust. Abu Anas