Muncul suara mengerikan, begini kesaksian warga Petobo saat likuifaksi terjadi

PETOBO (UMMAT Pos) — Fenomena likuifaksi yang terjadi di daerah Petobo menarik perhatian banyak masyarakat. Pasalnya, kejadian ini memang langka terjadi. Beberapa warga luar kota Palu juga sering mengaitkan kejadian ini dengan kisah Nabi Luth yang diceritakan Allah dalam al-Qur’an.

Proses pencarian kesaksian beberapa warga yang selamat oleh relawan Wahdah Islamiyah terus dilakukan. Sabtu (20/10), relawan bertemu dengan Rendi, salah seorang warga yang menjadi saksi kejadian yang juga merupakan relawan Wahdah asal Petobo.

“Malam itu, saya berada di kamar mandi. Tiba-tiba pas azan maghrib ada suara seperti pesawat yang baru landas. Ada juga teriakan ratusan orang yang saling bersahutan. Tapi saya tidak berani karena diluar sana gelap,” ujar Rendi.

Teriakan itu kata Rendi, begitu menyeramkan. Mereka meminta tolong karena tengah terjepit diantara reruntuhan dan tenggelam oleh lumpur yang berjalan. Apalagi suasana gelap saat itu menambah kesan menakutkan.

“Baru setelah paginya kami bisa melihat langsung kondisi mereka. Innalillah, ternyata semua rumah telah rata,” ucapnya sambil mengenang.

Rendi berujar, hal aneh yang ia saksikan karena fenomena likuifaksi ini ternyata pilih-pilih wilayah yang ingin dirusaknya.

“Di Petobo saja, hanya beberapa bagian yang digulung. Seperti dipilih-pilih. Untung rumah saya tidak sampai kena. Rumah sakit di Petobo juga selamat. Ajaibnya, arus likuifaksi tiba-tiba berhenti di depan pagar rumah sakit,” kata Rendi.

Sementara itu, ia memberi kesaksian bahwa di Balaroa, beberapa tanah yang terbelah mengeluarkan hawa panas bumi.

“Beberapa korban yang terjepit dan sempat selamat mengatakan bahwa kakinya terasa panas seperti terpanggang bara api,” tuturnya.

Tak hanya itu, di Balaroa terdapat sebuah lapangan yang sempat dijadikan sebagai tempat geladi bersih prosesi adat sebelum panitia menuju anjungan pantai Talise.

Saat itu, semua pemangku adat berkumpul ditempat itu.

“Nah di jembatan kuning itulah beberapa sesajen dihanyutkan dan tiba-tiba gemuruh tsunami datang. Ada seorang dukun yang mengeluarkan keris dan mengatakan bahwa selama keris itu berada digenggamannya maka tsunami tak akan mampu mendekati mereka,” kenangnya.

Akhirnya sang dukun meninggal ditempat bersama ribuan lainnya. Ia berharap agar bencana ini menjadi pelajaran bagi kita yang masih hidup.

“Jangan pernah menyombongkan diri di hadapan Allah. Karena kita ini begitu kecil. Cukuplah fenomena ini menjadi pelajaran bagi kita yang masih bisa hidup,” tukasnya.

Reporter: Zulkifli Tri Darmawan

Editor: Faisal

PILIHAN REDAKSI