Stand up comedy kebablasan, biar tak dihujat kalau bercanda perhatikan ini

CANDA ringan dan proporsional yang disampaikan pada waktu yang dibutuhkan terbukti bisa menyegarkan suasana jiwa, dan Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wa sallam pun dalam beberapa hadits disebutkan bercanda.

Namun dalam candaan itu ada beberapa kaidah agar candaan itu tidak keluar dari kebolehan:

1. Candaan perlu proporsional, sekedarnya saja

Kehidupan ini memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk mengumpulkan bekal menghadap Allah, meraih kebahagiaan negeri akherat. Untuk itu diperlukan keseriusan usaha di bidang ibadah maupun muamalah, berkarya dan berprestasi untuk mewukufkan kesuksesan dunia dan akherat.

Candaan yang terus menerus dan berlebihan yang mengakibatkan banyak tertawa menjadi tercela, selain bisa memalingkan dari karya juga potenisal mematikan hati, sebagiamana sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

لاَ تُكْثِرُ الضَّحَكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحَكِ تُمِيْتُ القَلْبَ

“Janganlah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (Shahih Al Jami’ no. 7435, dari Abu Hurairah)

2. Jangan Berbohong

Dalam Islam bercanda pun tetap tidak boleh berbohong. Maka saat Nabi bercanda tentang di surga tidak ada nenek- nenek karena memang benar di surga manusia pada keadaan usia terbaiknya. Juga saat Nabi bercanda tentang mata seorang putih, karena memang setiap mata ada putihnya, menaiki anak onta karena benar bahwa onta besar pun lahir dari onta dan anak dari induknya. Nabi bersabda:

إِنِّي لأَمْزَحُ , وَلا أَقُولُ إِلا حَقًّا

“Aku juga bercanda namun aku tetap berkata yang benar.” (HR. Thobroni dalam Al Kabir 12: 391. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dalam Shahih Al Jaami’ no. 2494).”

Membuat tertawa orang dengan kebohongan dicela dalam Islam, dan kalau kita renungkan memang kurang ada manfaatnya.

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

3. Menjadikan Allah, Rasul dan agama Islam sebagai objek Candaan

Ini adalah batas garis merah yang tidak boleh dilakukan bahkan didekati saat bercanda. Karena Allah, Rasulullah dan agama sama sekali bukan objek candaan. Mencandainya termasuk tindakan mengolok-olok dan bisa membawa pelakuknya pada kekafiran, wal’iyadzubillah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentau mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’

قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65–66)

Selain harus proporsional (sekedarnya), jangan bohong, maka saat bercanda juga tidak boleh menjadikan Allah, Rasul dan seluruh bagian dari agama sebagai objek candaan.

Wallohu a’lam.

Mas’ud Abu Abdillah

PILIHAN REDAKSI