Sentilan pakar semiotika bagi penista bendera tauhid dan pembelanya

Penulis Desertasi Ilmu Semiotika Dr. Miftah el-Banjary dalam tulisannya berjudul, Mari Saya Ajari Kalian Logika Sehat, menyindir pernyataan Ketua GP Ansor Nu, Yaqut Cholil Coumas belum lama ini yang ngotot menganggap bendera tauhid sebagai simbol HTI, meskipun pihak HTI sendiri telah mengklaim tak punya bendera resmi.

Berikut tulisan selengkapnya:

Pak Yaqut, Anda mengatakan bahwa bendera PKI tidak ada tulisan PKI-nya sebagaimana bendera bertuliskan kalimah “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah” tidak bertuliskan HTI. Anda keliru jika memakai nalar logika serampangan seperti itu.

Saya bukan HTI. Saya berbeda pandangan dalam masalah Khilafah. Tapi sebagai akademis saya sedih mendengar statement Anda seperti itu. Berarti Anda belum paham banyak hal tentang Filsafat Bahasa.

Anda perlu belajar lagi banyak hal agar tidak tampak terlihat ketidakpahaman saudara dalam melihat sebuah persoalan mengenai simbol dan tanda. Saya berbicara ini bukan membela pihak manapun, saya berbicara demi membela kalimah tauhid.

Ada baiknya saudara belajar dulu ilmu semiotika.

Ferdinand de Sausaure menyatakan bahwa ada hubungan antara “Signified” dan “Signifier” yang akan membentuk “Meaning” yang menghasilkan sebuah pemaknaan baru.

Di bendera PKI memang tidak tertuliskan PKI, tapi ikon “Palu-Arit” itu menjadi interpretasi tunggal sebagai sebuah konsensus tafsir tunggal gerakan komunis.

Lebih lanjut, Pierce ahli semiotika komunikasi membagi tanda menjadi tiga, yaitu: Ikon, Simbol dan Kode. Ikon “Palu-Arit” sudah menjadi sebuah interpretasi tunggal. Dia juga bisa menjadi simbol sebuah ideologi.

Anda harus belajar lagi tentang sejarah.
Palu arit (☭) merupakan bagian dari simbolisme komunis. Penggunaan simbol ini menyiratkan hubungan dengan komunisme, partai komunis, atau negara komunis.

Gambar palu dan arit yang tumpang-tindih bersilang, masing-masing mewakili kaum buruh dan petani, menyimbolkan persatuan kedua kaum tersebut. Simbol ini muncul pada saat meletusnya Revolusi Rusia dan dikenal luas setelah dicantumkan di panji merah Uni Soviet dan Partai Komunis Tiongkok beserta bintang merah.

Nah berbeda dengan kalimah Tauhid. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya mengenai analisis Bendera Tauhid berdasarkan analisa Pierce, bendera rayaa’ dan liwa’ itu murni panji Rasulullah yang “diklaim” oleh beberapa gerakan Islam di dunia.

Saya ingin mempertajam lagi dengan menggunakan analisis Umberto Eco yang menyatakan bahwa sebuah tanda mewakili tanda yang lain dan dia bisa ditafsirkan menjadi tanda baru.

Artinya, dalam konteks bendera Tauhid yang boleh dikatakan diduga bendera tersebut diakui sebagai bendera HTI itu menjadi tesis keliru. Karena Anda dan kelompok Anda akan selalu terjebak dengan tuduhan anti-Islam, apa dan bagaimana pun argumentasi dan dalih kalian.

Maka nalar logika yang harus dibangun adalah mengembalikan pada akar sejarah kepemilikan bendera tersebut, yaitu panji Rasulullah.

Kalian akan menjadi bulan-bulanan pusaran kepentingan politis pragmatis. Kalian yang mengklaim sebagai penjaga NKRI akan dijadikan alat kepentingan penguasa rezim dan di sana Anda bukan sebagai pemersatu dan perekat perbedaan bangsa lagi.

Kalian juga akan dikecam dan digugat umat Islam di dunia yang mereka tidak mau tahu alasan Anda demi menjaga ancaman NKRI kata kalian. Jelasnya, kalian bertindak diluar batas sangat berani membakar kalimah agung yang membuat bangsa ini merdeka, Islam ini jaya di penjuru dunia.

Siapa kalian dibandingkan kehebatan Muhamamd al-Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel dengan kalimah tauhid? Siapa kalian dibandingkan bung Tomo yang meneriakkan kalimah tauhid demi memerdekakan bangsa ini dari penjajahan?!!

Selama Anda dan anak buah Anda tidak mampu membangun nalar logika ilmiah seperti ini, selama itu Anda dan kelompok Anda dinilai tidak lebih dari kelompok ekstrim yang tidak mengandalkan kewarasan nalar dan logika sehat.

Tidak ada niat untuk mencemooh atau merendahkan Anda dan kelompok Anda. Tapi jujur saya merasa malu saja jika bangsa yang dipenuhi orang-orang cerdas ini tidak menjadikan Anda sebagai pemimpin yang juga cerdas menyikapi persoalan bangsa.

Seperti yang saya katakan kemarin, “Dakwah hari ini bukan lagi zamannya dengan kekerasan dan kepongahan, tapi dakwah hari ini harus diadu dengan logika dan kecerdasan. Dakwah itu merangkul, bukan memukul!” 

PILIHAN REDAKSI