Kisah polos anak pengungsi Petobo: tanah rasa taangkat kitorang lari

PETOBO (UMMAT Pos) — Gadis kecil berusia 12 tahun itu bernama Aisyah,  ia bersama teman sepermainan disampingnya kini tinggal di barak pengungsi di Petobo Selatan. Keduanya merupakan korban dari likuifaksi di Petobo akibat gempa di Sulawesi Tengah, Jumat (28/9).

Kedua bocah tersebut berhasil lolos dari lumpur yang bergerak, memerangkap tubuh mereka hingga muncul kembali ke permukaan. Mereka terseret lumpur sejauh kurang lebih 1,5 kilometer.

“Sore itu kami sedang bermain-main di pekarangan rumah. Nenek sambil bagendong adek datang kasih kitorang pisang. Tapi kitorang belum sampe di tempat nenek. Tanah sudah bagoyang kuat. Kitorang berlari ke warung tapi nenek dan adek sudah hilang dibawa lumpur yang ada. Belum lama kitorang di warung tanah rasa ta angkat kitorang lari lagi. Belum jauh kitorang lari, warung sudah pindah, banyak orang mati sudah disitu,” ujarnya sambil menunjuk ke arah dua kulkas yang tergeletak di dekatnya.

“Kitorang yang lagi berlari mau sampai tanggul langsung tasseret (terseret, ed) juga sampai Islamic Center cuma mata ini kelihatan,” ujar Aisyah mengenang peristiwa itu.

“Mungkin saya sudah mati,” tambah Aisyah melanjutkan ceritanya dengan wajah polos.

Aisyah terus berjalan di kegelapan malam, meski badan terasa berat karena penuh lumpur. Terdengar suara minta tolong dari dalam lubang lalu perlahan tubuh mereka yang minta tolong tadi pun menghilang. Rasa takut bercampur rasa lapar menemani langkahnya.

“Saya jalan saja terus di atas jalan yang tiba-tiba rasa mendaki dan rasa menurun yang patah di antara kayu-kayu tidak terasa kita sampai disini, di atas tanggul,” sambil menunjuk ke atas sekitar 12 meter dari kami berdiri” kata anak laki-laki itu memotong pembicaraan anak perempuan di sampingnya yang sekaligus sepupunya.

Saat ditanya soal makanan waktu itu, Aisyah berkisah dengan mata berkaca-kaca kalau ia dan pengungsi lainnya mencari buah pisang karena bantuan baru tiba setelah tiga hari pasca gempa.

Aisyah menuturkan bahwa kakaknya  yang ikut memancing di patah Talise bersama kerabatnya yang lain tak juga ditemukan.

“Banyak korban disini pak. Nenek sama adekku juga tidak didapat. Ada juga di sini sedang pesta. Semua hilang bahkan dengan tenda-tendanya. Macet di sini setiap hari pak, apalagi di waktu maghrib. Banyak yang mau pulang ke rumah dari kerja ada juga baru mau ke masjid,” tutur anak lelaki di sampingnya sambil memandang jauh ke arah BTN Petobo yang hilang tertutup lumpur.

“Terima kasih kakak pasukan hijau LAZIS Wahdah atas bantuan yang diberikan kepada kitorang samua. Bantuan yang bikin kitorang samangat lagi,” ujar Aisyah mengakhiri kisah.

25 hari telah berlalu pasca gempa yang mengguncang dan meluluh lantakkan wilayah Petobo seluas kurang lebih 145 hektar.

Laporan: Anang, relawan Wahdah Islamiyah

Editor: Faisal

PILIHAN REDAKSI