Catatan BNPB: Indonesia Alami 1999 Kejadian Bencana Sepanjang 2018

JAKARTA (UMMAT Pos) — Sejak 1 Januari hingga 25 Oktober 2018, Indonesia telah mengalami 1999 kejadian bencana dengan korban jiwa 3548. Salah satu kejadian bencana tersebut adalah gempa bumi yang tahun ini jumlahnya diperkirakan meningkat cukup drastis.

Selain gempa, ribuan kejadian bencana di Indonesia yang tercatat lainnya termasuk tsunami, erupsi gunungapi, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, puting beliung, serta cuaca ekstrem.

Menurut keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban jiwa tahun ini tergolong yang terbesar dalam 11 tahun terakhir. Selama periode itu pula, kejadian bencana yang paling banyak menimbulkan korban adalah bencana di tahun 2009, 2010 dan 2018.

“Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada tahun 2018 ini paling besar sejak 2007,” tulis Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, dalam keterangan pers (25/10/2018).

BNPB menyebut, 3548 orang dinyatakan meninggal dunia atau hilang selama bencana 2018, sementara kerugian materiil dilaporkan mencapai belasan triliun per kejadian.

“Sebagai gambaran, gempabumi di Lombok dan Sumbawa menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp 17,13 trilyun. Begitu juga gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian dan kerusakan lebih dari Rp 13,82 trilyun,” demikian bunyi laporan tersebut.

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia (BMKG), Rahmat Triyono, mengatakan, terlepas dari dampak yang ditimbulkan bencana gempa di Sulawesi Tengah dan Lombok beberapa pekan lalu, jumlah gempa tahun ini diperkirakan akan meningkat drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Rata-rata per tahun di Indonesia itu ada sekitar 6000-7000 gempa. Nah kemarin saja di Lombok gempa susulannya ada 1000 kali. Jadi sampai akhir tahun nanti kemungkinan besar jumlah gempa meningkat tajam,” ujarnya.

“Kami akan keluarkan laporan lengkapnya di akhir tahun,” imbuh Rahmat.

Ia menuturkan, sebagian besar dari bencana gempa yang terjadi di Indonesia pada tahun 2018 ini adalah gempa tektonik.

Masa tanggap darurat berakhir

Sementara itu, hampir satu bulan pasca terjadinya bencana gempa-tsunami di Sulawesi Tengah, status tanggap darurat akhirnya dicabut pada tanggal (26/10/2018).

Selanjutnya, status transisi darurat ke masa pemulihan bencana akan berlangsung 2 bulan hingga akhir Desember.

“Masa tanggap darurat penanganan bencana gempabumi, tsunami dan likuifaksi di Provinsi Sulawesi Tengah berakhir pada Jumat (26/10/2018),” demikian bunyi keterangan pers BNPB.

“Gubernur Sulawesi Tengah telah memutuskan penetapan status transisi darurat ke pemulihan gempabumi, tsunami dan likuifaksi di Provinsi Sulawesi Tengah selama 60 hari terhitung mulai tanggal 27/10/2018 hingga 25/12/2018.”

Adapun kerugian yang diderita oleh Provinsi Sulawesi Tengah akibat bencana gempa-tsunami bulan lalu, hingga status tanggap darurat dicabut (26/10/2018), mencapai angka Rp 15,29 triliun, di mana sebagian besarnya terkonsentrasi di Palu dengan Rp 7,6 triliun.[fm/abc.net.au]

PILIHAN REDAKSI