Catatan Redaksi: Peserta Aksi 211 pun Tahu Bendera Tauhid yang Dibakar Bukan Simbol Ormas Tertentu

JAKARTA (UMMAT Pos) — Sejumlah pengunjuk rasa mengaku ikut aksi Bela Tauhid 211 di Jakarta atas inisiatif sendiri. Mereka menuntut agar pemerintah mengakui bahwa bendera yang dibakar itu bertuliskan kalimat Tauhid, dan mengadili pelaku sesuai hukum yang berlaku.

“Saya ikut aksi sebagai bentuk solidaritas, karena ada bendera berkalimat Tauhid yang dibakar. Saya tidak bisa diam saja,” kata Syamsul Muarif (16) saat ditemui di sela unjuk rasa, di Jakarta, Jumat, (2/11) lalu.

Syamsul yang datang dari wilayah Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten, mengatakan ia datang ke Jakarta bersama Deni, gurunya dari Pesantren Cisoka, dengan kereta.

“Kami naik angkot lalu sambung kereta, dan jalan kaki ke lokasi kumpul,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Syamsul dan Deni mengaku kecewa dengan aksi pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid yang dilakukan oleh oknum Banser NU di Garut pada peringatan Hari Santri Nasional.

Menurut Deni (26), dari Pesantren Cisoka, bendera yang bertuliskan Tauhid bukan simbol milik ormas tertentu.

Bendera tersebut, menurutnya, melambangkan ajaran umat Islam yang harusnya dihormati dan dilindungi oleh aturan perundang-undangan di Indonesia.

Di lain kesempatan, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj tidak menyalahkan aksi pembakaran tersebut.

Menurut Said, pembakaran bendera itu dalam rangka menyelamatkan.

“Jadi membakarnya bukan dalam rangka menghina, tetapi dalam rangka menyelamatkan,” kata Said Agil saat dikonfirmasi wartawan di sela kunjungannya menghadiri pelantikan Ketua PCNU Lumajang, Jawa Timur, Selasa (23/10/2018).

Dia lalu menyamakan dengan Al quran di mushala yang rusak. Maka sebaiknya dikumpulkan lalu dibakar.

“Kalau kita di mushala, ada Quran ya sudahlah, rusak wis, (kondisinya) sobek-sobek. Nah, sebaiknya dikumpulkan, dibakar saja, daripada terhina di pojok mushala,” terang Said.

Kendati demikian, dia tetap menyayangkan tindakan pembakaran bendera berkalimat tauhid itu. Sebab tindakan itu dinilai emosional.

“Tapi tidak bisa kita salahkan, karena itu sikap anti kita terhadap organisasi terlarang,” ucap Said.

“Sama dengan (organisasi) PKI, organisasi terlarang kan? Sama dengan ketika ada orang, misalkan mengibarkan palu arit, kita bakar (gambarnya),” sambung Said.

Said berdalih bahwa kalimat tauhid yang ada di bendera itu dipakai oleh organisasi yang kini sudah dilarang pemerintah. Maka pembakaran dilakukan terhadap simbol organisasinya, bukan pada kalimat tauhidnya.

“Yang kita lihat itu organisasinya, bukan kalimat tauhidnya,” ujar Said Agil.

Namun demikian pernyataan Said Agil dibantah oleh pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan tidak menjumpai adanya lambang Hizbut Thahrir Indonesia (HTI) dalam insiden pembakaran bendera tauhid oleh santri di Garut belum lama ini.

“Memang itu tidak ada HTI-nya, jadi itu kalimat tauhid. Kami melihat yang dibakar kalimat tauhid karena tidak ada simbol HTI,” kata Wakil Ketua Umum MUI Yunahar Ilyas, di kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (23/10).MUI

Hal senada disampaikan Ismail Yusanto, pria yang dulu dikenal sebagai juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), menyatakan bendera yang dibakar di Garut bukanlah bendera HTI. Dinyatakannya, organisasi yang telah dibubarkan pemerintah itu tidak punya bendera.

“Perlu saya tegaskan di sini bahwa yang dibakar itu bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia tidak punya bendera,” kata Ismail dalam video yang dia unggah lewat akun Twitter-nya, @ismail_yusanto, Selasa (23/10/2018).

Ribuan massa mengikuti aksi bela tauhid 211 di areal dekat patung kuda, depan gedung PT Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat, sejak Jumat, (2/11) pukul 13.00 WIB. Sesuai rencananya, aksi yang berlangsung tertib itu berakhir sebelum pukul 18.00 WIB.

Massa aksi menuntut agar pemerintah mengakui bahwa bendera yang dibakar itu bertuliskan kalimat Tauhid, dan mengadili pelaku sesuai hukum yang berlaku.

Faisal

PILIHAN REDAKSI