Oleh-oleh dari hijrah Fest 2018

“Tiketnya sudah sold out, Bu,” kata laki-laki muda yang berada di belakang kaca loket.
Wah, ternyata benar, sudah terjual habis, batin saya. Saya sudah mendapat informasi sebelumnya kalau tiket sudah terjual habis beberapa hari lalu.
“Kalau akses untuk media lewat mana?” Tanya saya.
“Lewat pintu itu,” jawabnya sambil menunjuk pintu masuk.

Bergegas saya menuju pintu yang dimaksud sambil mengirim pesan WA ke Lambang, “Tiket sold out. Kamu gak bisa masuk. Aku pakai akses media. Kamu nanti jemput ke sini abis Isya’ saja.”

Kalau sehari sebelumnya orang ribut mencari tiket konser Guns N’ Roses atau tiket film Bohemian Rhapsody, tiket yang terjual habis ini bukan keduanya. Ini adalah tiket HIJRAH FEST 2018.

Sebuah gelaran dakwah selama 3 hari berturut-turut yang dihelat oleh para penggiat komunitas hijrah di JCC, Jakarta. Subhanallah…

Tak kurang ustadz-ustadz ternama, mulai Ust Bahtiar Nasir, KH Abdullah Gymnastiar, Ust Salim Fillah, Ust Oemar Mitha, hingga ustadz yang dekat dengan komunitas anak-anak muda Ust Hanan Attaki dihadirkan.

Kejutan pertama adalah tiket yang dijual tak murah itu telah ludes terjual beberapa hari sebelumnya.

Ini adalah fenomena baru di kalangan M Generation (milenial muslim) di Indonesia. Untuk hadir dalam kajian dakwah yang tidak dihelat di masjid, melainkan di convention center, mereka rela membeli tiket dan banyak yang tidak mendapatkannya!

Kejutan kedua, pintu masuk JCC dipisahkan antara pintu laki-laki dan perempuan dengan bertuliskan “Batas suci, alas kaki harap dilepas”. Seumur-umur baru sekali ini saya ke JCC dan harus melepas alas kaki.

Di dekat pintu masuk, terlihat berderet booth sponsor utama gelaran ini. Mereka membagikan goodie bag yang dikemas dalam tas yang bisa digunakan untuk menyimpan alas kaki. Jangan bayangkan sepatu dan sandal ditenteng dengan tas kresek hitam. Tas sandal yang dibagikan keren-keren bertulis logo acara dan brand mereka.

Kejutan berikutnya, hampir separuh hall JCC yang begitu luas itu ditutup karpet berwarna abu-abu. Main event ini adalah kajian dakwah, sehingga separuh venue dialokasikan untuk kegiatan itu. Bazar yang dihadirkan hanyalah pelengkap.

Sekalipun sebagai pelengkap, namun semuanya menarik. Ada booth yang menjual produk-produk bersertifikasi halal dari jaringan global dunia. Ramen dan beras instan dari Jepang, cokelat dan biscuit dari Inggris, hingga kudapan manis khas Turki.

Saya membeli sekotak kurma madjol kualitas grade A yang diimpor langsung dari Palestine. Tak hanya kurma, booth ini juga menghadirkan beragam produk unggulan dari Palestine lainnya, seperti olive oil yang sangat sedap.

Ada juga Warung Waqaf, sebuah jaringan waralaba convenience store dengan konsep waqaf. Dan tentu saja, berderet brand fashion dan distro muslim.

Saya tersenyum melihat pemandangan ini. Seperti ada kupu-kupu beterbangan di hati. Perempuan-perempuan muda dalam balutan hijab berwarna-warni, tak sedikit yang berniqab rapat, hilir mudik sambil asyik mendengarkan kajian.

Anak-anak muda mengenakan celana jogger dan koko keluaran distro-distro muslim ternama dengan desain dan tulisan dakwah yang atraktif berada di area yang berbatas penghalang besi dengan area akhwat.

Saya membaca tulisan di salah satu kaus yang dikenakan: Generasi Salahudin Al Ayyubi. Si pemilik yang sepertinya berusia awal 20-an terlihat asyik membaca buku kecil “Dzikir Pagi & Petang” sambil duduk bersimpuh mendengarkan kajian.

Fenomena seperti ini tak ada di zaman saya seumur mereka. Saya ingat, sewaktu SMP dan SMA saya membuat kajian perempuan di rumah bersama teman-teman. Beberapa mahasiswi UNS bergantian menjadi mentor kita setiap akhir pekan. Teman-teman yang ikut dalam kajian ini adalah mereka yang betul-betul ingin belajar agama, istilah mudahnya anak-anak Rohis.

Tidak ada suasana seperti yang saya lihat sore ini. Di zaman itu mindsetnya belajar agama harus serius. Tidak ada suasana yang fun dan menyenangkan seperti ini. Gelombang hijrah generasi ini memang luar biasa. Sudut mata saya terasa hangat.

Parade kesalehan itu makin terlihat. Menjelang Maghrib, antrean wudhu peermpuan mengular rapi. Tidak ada yang saling serobot. Semua berbaris satu per satu dengan tertib. Saya belum pernah melihat antrean setertib ini dalam banyak event yang digelar di JCC.

Sepuluh menit menjelang adzan, panitia di panggung utama memberi pengumuman bagi semua booth untuk segera menutup gerainya. Bila sampai waktu sholat masih ada yang melakukan transaksi, maka gerainya akan kena sanksi tidak boleh berjualan lagi esok hari.

Suasana yang semula riuh tiba-tiba senyap manakala adzan mulai berkumandang. Panggilan shalat yang disuarakan dengan langgam khas Madinah itu terasa menggetarkan hati. Wajah-wajah belia yang terlihat basah oleh siraman air wudhu tertunduk khusuk mendengar seruan ilahi.

Suara sang imam Muzammil Hasballah, hafidz muda lulusan ITB yang bersuara indah, mulai terdengar saat meminta jamaah meluruskan dan merapatkan shaf shalat. “Jadikan shalat ini seakan shalat terakhir kita,” katanya lembut, namun tak urung membuat bulu kuduk saya meremang. Ya Rabb, seandainya ini Maghrib terakhir saya, jadikan ini sebagai jalan ke surgaMu.

Setelah Alfatihah, lalu terdengar bacaan surat Ar-Rahman yang sangat indah… Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukazziban [Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?]

Allah tidak akan menyiakan-nyiakan hambanya yang memilih jalan hijrah. Seperti Allah mengganti hijrahnya Nabi Musa dari Mesir dengan tanah Palestine yang diberkahi. Seperti hijrahnya Nabi Ibrahim dan wanita mulia Ibunda Hajar dan Ismail dari Palestine dan menggantinya dengan Tanah Suci Mekkah. Seperti hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Mekkah ke negeri yang penuh berkah Madinah.

Mari bersama-sama meneguhkan hati: ini saatnya berhijrah, sembari terus memohon, semoga Allah izinkan untuk tetap istiqamah.[fm/ilf]

PILIHAN REDAKSI