Pemulangan Warga Rohingya Ke Myanmar Dianggap Belum Aman

JAKARTA (UMMAT Pos) — Proses pemulangan warga Rohingya yang melarikan diri dengan melintasi perbatasan ke Bangladesh dijadwalkan akan dimulai pada pertengahan November 2018, meskipun ada kekhawatiran bahwa masih belum aman bagi mereka untuk kembali.

Pemulangan pengungsi Rohingya dari kamp-kamp di Bangladesh ke Myanmar bersifat sukarela, tetapi PBB mengatakan keluarga yang mereka ajak bicara tidak ingin dikirim kembali.

“Keluarga di kamp ketakutan, banyak dari mereka telah melarikan diri dari rumah mereka sendiri untuk menghindari kesepakatan repatriasi ini,” kata manajer advokasi Asia Pasifik Amnesty International, Francisco Bencosme seperti dikutip media Australia, ABC yang dipantau Ummat Pos pagi ini.

Lebih lanjut, Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Michelle Bachelet menyerukan penghentian proses tersebut. Ia mengatakan hal itu telah “menyebabkan kepanikan” di dalam kamp di Cox’s Bazar.

“Jika kami mendapatkan hak kami, kami dengan senang hati akan kembali, kami bisa pindah sekarang,” kata seorang pengungsi yang tinggal di salah satu kamp kepada media.

“Kami mengalami begitu banyak rasa sakit, dan jika kami kembali lagi untuk menghadapi hal yang sama, lalu mengapa kami harus pergi?.”

Bencosme mengatakan bahwa seluruh proses ini tidak memiliki transparansi.

“Dari semua yang kami dengar, Rohingya tidak diajak konsultasi sehubungan dengan kesepakatan repatriasi ini,” katanya.

“Kenyataan bahwa Anda akan mengembalikan para pengungsi ke tempat di mana hak-hak mereka akan terus dilanggar, dan hidup mereka terus-menerus berisiko, di mana banyak orang yang sama yang membakar desa-desa mereka akan tinggal tepat di sebelah mereka sangat tidak dapat diterima oleh Amnesty International.”

Volker Turk, Asisten Komisaris Tinggi PBB untuk Perlindungan mengatakan sangat penting bahwa pengungsi Rohingya bisa membuat pilihan yang bebas dan terinformasi tentang apakah mereka ingin kembali ke Myanmar.

“Kita belum sampai ke sana. Kita belum bisa memverifikasi kesediaan orang-orang untuk kembali,” katanya.

Volker mengatakan, masih ada sekitar 125.000 warga Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsi internal di negara bagian Rakhine, Myanmar, tempat para pengungsi akan dipulangkan.

“Akan lebih baik bahwa mereka ini adalah yang pertama yang bisa kembali ke rumah, bahwa kebebasan bergerak mereka tak dibatasi, bahwa mereka bisa memperoleh dokumen, dan bahwa mereka melanjutkan hidup mereka.”

“Tapi bukan begitu kenyataannya sekarang ini,” katanya.

Volker mengatakan Pemerintah Myanmar diharapkan untuk bekerja menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk memulangkan, “tetapi kemajuannya sangat lambat.”

Sumber: ABC

Faisal

PILIHAN REDAKSI