Maulid: Menyikapi ‘Pro’ dan ‘Kontra’

 Oleh Andi Muh. Akhyar, M.Sc.*

TULISAN ini tidak akan membahas hukum perayaan maulid karena telah banyak referensi, baik yang ‘pro’ maupun ‘kontra’. Penulis mencoba menguraikan, bagaimanakah sikap kita terhadap orang yang berbeda pandangan: ‘pro’ terhadap ‘kontra’ dan ‘kontra’ terhadap ‘pro’.

‘Kontra’ terhadap ‘Pro’

‘Kontra’ dengan perayaan maulid, menganggap bahwa maulid itu adalah bid`ah, itu hak Anda. Atas ilmu yang Anda pelajari, Anda berhak menjadikannya sebagai prinsip. Namun demikian, ketika Anda berpegang pada prinsip tersebut, bagaimanakah Anda bersikap terhadap saudara muslim lain yang tetap merayakan maulid? Mari berqudwah pada seorang ulama, Syaikhul islam Ibnu Taimiyah. Beliau termasuk ulama yang berpandangan bahwa maulid itu bid`ah. Beliau berkata dalam Iqtidho’ ash shiroth al mustaqim (2/126),

“Mengagungkan maulid dan menjadikannya suatu perayaan, dilakukan oleh sebagian orang. Dan hal itu menyebabkan pahala baginya dikarenakan niat baiknya dan pengagungannya untuk Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam.
Sebagaimana yang telah saya sampaikan bahwa hal itu baik bagi sebagian orang tapi buruk bagi mukmin yg berhati-hati.”

Betapa indah dan bijaksana perkataan ini. Ia berpegang pada prinsipnya tentang kebid`ahan maulid,namun ia tidak menyalahkan orang yang melaksanakannya, bahkan manganggapnya mendapatkan pahala. Mereka mendapatkan pahala atas niat baiknya dan kecintaannya kepada Rasulullah.

Tidak sekedar pada tataran niatnya, tapi juga pada perayaannya. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa untuk sebagian orang, boleh jadi perayaan maulid itu adalah sebuah kebaikan. Dalam tataran niat, mungkin kita sepakat, segala niat baik dan kecintaan kepada Rasulullah, itu adalah kebaikan dan pantas diganjar pahala. Namun sebagian orang yang berpandangan bid`ahnya maulid, mungkin bertanya, bagaimana mungkin kebid`ahan menghasilkan kebaikan?

Atas kefakihannya, Ibnu Taimiyah pun telah menyiapkan jawabaan atas pertayaan tersebut pada lanjutan penjelasannya. Beliau memberikan contoh sikap imam ahmad. Kata Ibnu Taimiyah,

“Dikatakan kepada Imam Ahmad tentang sebagian pemimpin yang mengeluarkan sekitar 1000 Dinar (kurang lebih 2 miliar rupiah) untuk membuat sebuah mushaf. Beliau menjawab, “Biarkan mereka. Itu infak terbaik emas (dinar).”Padahal hukum menghias mushaf dalam madzhab beliau adalah makruh. Para ulama madzhab menakwilkan bahwa hal itu untuk kualitas kertas dan tulisan yg lebih baik. Tapi bukan itu yg dimaksud oleh Imam Ahmad. Maksud beliau adalah bahwa ini ada kebaikannya tapi juga ada kerusakannya yang menyebabkan dihukumi makruh. Tapi jika mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan melakukan kerusakan yang tidak ada kebaikannya sama sekali. Contohnhya, mengeluarkan harta mereka untuk menerbitkan buku-buku peneman malam, syair-syair, atau hikmah Persia dan Romawi.”

Sikap imam Ahmad tersebut berdiri di atas kedalam ilmu beliau. Membuat sebuah mushaf adalah kebaikan, namun menghiasinya, bahkan menghabiskan dana sampai dua miliar rupiah adalah kesia-siaan dan sesia-siaan merupakan keburukan. Jika sampai disini saja, berimbang antara maslahat dan mudhortanya. Namun ternyata, atas kedalaman ilmu imam Ahamad, beliau pun mempertimbangkan bahwa jika harta sang pemimpin tak digunakan untuk menghiasi alquran, justru dananya hanya akan digunakan untuk menerbitkan buku-buku peneman malam, syair-syair, atau hikmah Persia dan Romawi. Penerbitan buku tersebut juga merupakan keburukan.

Bertemu dua buah keburukan: keburukan menghiasi alquran dan keburukan menerbitkan syair-syair. Dalam hal ini, Imam Ahmad menggunakan kaidah fiqh dengan mengambil keburukan yang kecil untuk menghindari keburukan yang besar. Keburukan menghiasi alquran itu lebih ringan dari pada keberukan membuat syair-syair. Dari pada pemimpin tersebut terjatuh pada keburukan yang lebih besar, maka imam ahmad berkata, “Biarkan mereka, itu infak terbaik emas (dinar).”

Sebagaimana kedalaman ilmu dan kebijaksanna Imam Ahmad, maka itu pulalah dasar Ibnu Taimiyah berkata, “Hal itu (merayakan maulid) baik bagi sebagian orang.”Ada ornag-orang yang mungkin tidak pernah menginjakkan kakinya di masjid, namun karena adanya momen maulid tersebut, mereka akhirnya bisa terlihat di masjid. Ada orang-orang yang mungkin tak pernah mendengarkan ceramah agama, namun dengan momen maulid, dia mau duduk menerima nasehat. Dan secara umum, dalam kondisi kekinian kita, dari pada mereka habiskan waktunya dalam kesia-siaan: nonton sinetron, main game, main domino, atau mungkin bermaksiat kepada Allah, adalah lebih baik jika mereka ikut mendengarkan ceramah dalam perayaan maulid. Dari pada meraka nongkrong di kafe, di bioskop, lebih baik mereka nongkrong di masjid. Menghindari keburukan yang lebih besar dengan mengambil keburukan yang lebih kecil.

Selain pada urusan maulid, Ibnu Taimiyah pun pernah menerapkan kaidah yang sama. Dalam kitabnya, I’laam al-Muwaqqi’in (3/13), Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (751 H) menceritakan kisah gurunya, Imam Ibnu Taimiyah (728 H) ketika beliau dan para pengikutnya melihat segerombolan pasukan Mongol yang bermabuk-mabukkan meminum khamr. Termotivasi oleh hadits,

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim)

Salah seorang sahabatnya bergegas untuk mencegah kemungkaran tersebut dengan lisannya. Namun Ibnu Taimiyah mencegahnya dan berkata, “Allah subehanahu wata`ala mengharamkan khamar karena ia (khamar) mencegah seseorang dari berdzikir kepada-Nya dan dari shalat. Sedangkan mereka ini (pasukan Mongol), yang (meminum) khamr, mencegah mereka dari membunuh orang-orang, memenjarakan keturunannya, serta merampas harta mereka. Maka biarkan saja mereka seperti itu.”

Minum khamar ada kemungkaran, sudah sepantasnya dicegah. Namun pasukan mongol terkenal suka membunuh, memenjarakan, dan merampas harta. Ini juga kemungkaran, harus dicegah. Karena bertemu dua kemungkaran, maka Ibnu Taimiyah membiarkan kemungkaran yang kecil (minum khamar) untuk menghindari kemungkaran yang lebih besar (membunuh, memenjarakan, dan merampok).

Demikianlah para ulama. Karena tingginya ilmu, maka bijaksana dalam bersikap. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka ia akan semakin bijaksana.

‘Pro’ Terhadap ‘Kontra’

Ketika ‘pro’ maulid mendapati ada orang yang berkata perayaan maulid adalah bid`ah, maka santai saja. Belajar untuk memahami bahwa itulah pemahaman mereka.

Ketika mereka memahami bahwa itu bid`ah, belum tentu juga mereka menyalahkan Anda dan menghukumi Anda sebagai ahlul bid`ah, sebagaimana pandagan Ibnu Taimiyah di atas. Beliau anggap maulid bid`ah untuk dirinya, namun berkata bahwa yang merayakan maulid justru mendapatkan pahala atas niat dan kecintaannya kepada Rasulullah.

Kalaupun mendapati orang yang membid`ahkan maulid dan senang menyalah-nyalahkan, cara penyampaiannya kasar, tidak beradab, maka santai saja. Pemilik surga dan neraka adalah Allah, bukan dia. Tidak usah marah. Tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan yang sama, karena jika Anda pun mengasarinya, apa bedanya Anda dengannya?

Betapa Indah nasehat yang Allah tuliskan dalam surat Fusshilat ayat 34-35. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, terdapat perbedaan yang amat besar antara kebaikan dan kejahatan. Jika ada orang yang berlaku buruk kepadamu, maka tolaklah dengan cara yang lebih baik. Sebagaimana Umar berkata, “Tolaklah menghukum orang yang berbuat maksiat kepada Allah dalam dirimu sebagaimana bila engkau berbuat taat kepada Allah dalam dirinya.”

Adapun firman Allah, “Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia,”yaitu sebagai teman baik. Yakni jika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, niscaya kebaikan itu akan mengarahkannya untuk bersikap tulus kepadamu, mencintaimu, dan merindukanmu, sehingga seakan-akan dia menjadi teman setia, dalam arti mendekatimu dengan rasa kasih sayang dan berbuat baik.

Kemudian Allah berfirman, “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar.”Maksudnya, Tidak ada yang dapat menerima dan mengamalkan wasiat ini kecuali orang yang sabar atas hal ini, karena ini amat berat bagi jiwa.
“Dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang sangat besar,”yaitu orang yang mendapatkan bagian terbersar berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini, “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk sabar ketika marah, dan lapang dada ketika dibodohi, serta memaafkan ketika disalahkan. Jika mereka melakukan hal itu niscaya Allah memelihara mereka dari syaitan serta menundukkan musuh-musuh mereka, seakan-akan menjadi teman setia.”

Akhirnya, bagaimana pun juga, pihak ‘pro’ dan ‘kontra’, tetaplah bersaudara karena Allah yang disembah, Rasul yang diikuti, Alquran yang dipedomani, adalah sama. Memang ada perbedaan, namun persamaan keduanya jauh lebih banyak dari pada perbedaannya.

Menjelang tidur,

Selasa, 20 November 2018

Pukul 22.39 CET

@’Pondok Sakinah’ Bernhardstraat 23, Wageningen, Negeri ‘Kincir Angin’ Belanda

*) Penulis adalah Pengurus Yayasan Internasional Islamic Center Wageningen, Belanda), (MSO Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia)

 

 

 

PILIHAN REDAKSI