Dari Menantu Hendropriyono Sampai Menantu Luhut Panjaitan

Oleh: Djajang Nurjaman (Pengamat media dan ruang publik)

PRESIDEN Jokowi dalam pekan ini bagi-bagi bonus besar bagi orang dekatnya. Andika Perkasa menantu mantan Kepala BIN Hendropriyono baru saja diangkat menjadi Kepala Staf TNI AD. Pangkatnya dinaikkan dari Letjen menjadi jenderal bintang empat. Maruli Simanjuntak menantu Menko Maritim Luhut Panjaitan diangkat menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Pangkatnya dinaikkan dari Brigjen menjadi Mayjen.

Baik Andika maupun Maruli sama-sama menjadi perwira paling moncer di angkatannya, bahkan karirnya melompati para seniornya. Andika lulusan Akmil 87 melompati para seniornya di Akmil 84-85, dan 86. Sementara Maruli menjadi perwira pertama lulusan Akmil 92 yang meraih bintang dua. Dia juga mengalahkan sejumlah seniornya dari Akmil 90 dan 91.

Di antara lulusan Akmil 92 Maruli melewati Brigjen TNI Richard Tampubolon (Wadanjen Kopassus) yang menjadi perwira pertama meraih bintang. Maruli juga meninggalkan jauh Kolonel Kunto Arief Wibowo putra mantan Wapres Try Sutrisno. Kunto merupakan salah satu perwira paling cemerlang di Akmil 92. Pangkatnya masih tersendat di melati tiga.

Lompatan Karir Andika ini sungguh menakjubkan. Hanya dalam lima tahun dia berhasil naik pangkat empat kali. Bahkan dia meraih pangkat Letjen dan Jenderal hanya dalam satu tahun. Andika menempati posisi sebagai Pangkostrad hanya dalam waktu lima bulan.

Maruli Simanjuntak tak kalah menariknya. Hanya dalam waktu 18 bulan dia mendapat dua bintang. Pada 25 April 2017 dia dilantik menjadi Wadan Paspampres dan pangkatnya naik dari Kolonel menjadi Brigjen. Kemudian 22 Oktober 2018 geser menjadi Kasdam Diponegoro, dan terhitung 29 November 2018 menjadi Danpaspampres dengan pangkat Mayjen.

Melihat track recordnya bukan tidak mungkin Maruli akan mengikuti jejak Andika. Kalau saja Jokowi terpilih lagi sangat mungkin Andika akan dipromosikan menjadi Panglima TNI dan dengan mutasi dan kenaikan pangkat yang cepat seperti jalur Andika, Maruli akan menempati posisi sebagai KSAD.

Tentu tidak ada yang gratis dengan bonus besar jelang akhir tahun itu. Pergantian ini tak lepas dari konsolidasi Jokowi untuk memenangkan Pilpres. Dia sudah mengendalikan Mabes Polri, Mabes TNI dan sekarang menyusul Mabes TNI AD. Posisi TNI AD sangat penting karena 75% kekuatan TNI ada disini. TNI AD juga punya aparat teritorial Babinsa. Bekerja sama dengan Babinkamtibmas Polri, Babinsa yang bisa menjangkau desa-desa, bisa menjadi alat kekuatan politik yang ngegirisi, bila bisa dimanfaatkan.

Karir moncer para menantu ini seakan menebus kegagalan para mertuanya. Hendro dan Luhut kedua-duanya tidak pernah berhasil menduduki posisi puncak di TNI AD, maupun TNI.

Hendropriyono Akmil 67 jabatan terakhir adalah Komandan Kodiklat TNI AD (1994-1996) dengan pangkat Mayjen. Dia nyaris menjadi Panglima ABRI ketika BJ Habibie menggantikan Pak Harto. Namun last minute, batal. Wiranto tetap dipercaya menempati posisi itu. Padahal Hendro sudah mengenakan seragam Pangab. Luhut Akmil 70 juga sama Komandan Kodiklat TNI AD (1997-1998) dengan pangkat Mayjen.

Jalan hidup keduanya seakan beriringan. Hendro dan Luhut sama-sama mendapat pangkat jenderal bintang empat bukan dalam struktur TNI AD, namun melalui pemberian kehormatan (hor). Hendro naik pangkat menjadi Letjen sewaktu menjadi Sesdalopbang. Sementara Luhut naik pangkat menjadi Letjen (hor) semasa menjadi Dubes di Singapura dan kemudian kembali naik pangkat lagi jenderal (hor). Dua2nya di masa Megawati menjadi Presiden.

Keduanya kini juga orang dekat Jokowi dan banyak menentukan kebijakan pemerintah. Bedanya Hendro pernah menyandang posisi teritorial mentereng yakni Pangdam Jaya, Luhut jabatan teritorial tertingginya adalah Danrem di Madiun. Dia tak pernah menjadi Pangdam.

Naiknya dengan cepat menantu para orang dekat Jokowi ini jelas menimbulkan pertanyaan besar. Apakah Jokowi merasa tidak aman, sehingga harus dikelilingi orang-orang dekatnya. Atau ini langkah antisipasi karena sudah mencium tanda-tanda? Bila dia tidak terpilih kembali, maka menantu dua orang jenderal andalannya ini sudah aman posisinya.

Dalam tradisi militer profesional, selain prestasi, senioritas sangat diperhatikan. Naiknya Andika banyak dipertanyakan karena dia melewati para senior, maupun teman satu angkatan yang dari catatan prestasi tempur maupun akademis lebih baik dibandingkan dengan dirinya. Lompatan yang terlalu tinggi dipastikan akan mengganggu rantai komando di kalangan TNI.

Hal yang sama juga terjadi pada Panglima TNI Hadi Tjahjanto. Dia kenal dekat sejak Jokowi menjadi Walikota Solo dan Hadi menjadi Komandan Pangkalan Udara Adisumarmo. Pernah menjadi Sekretaris Militer Jokowi, karirnya melesat menjadi KSAU dan kemudian Panglima TNI.

Latar belakang Hadi adalah pilot pesawat angkut ringan. Secara tradisi Kepala Staf TNI AU diisi perwira dari korps penerbang tempur.

Namun melihat gaya kepemimpinan Jokowi, hal semacam itu sudah biasa dilakukan. Ketika mengangkat Tito Karnavian Akpol 87 sebagai Kapolri, dia juga melewati banyak angkatan. Akpol 83-84,85, dan 86.

Dualisme kepemimpinan di Polri terjadi ketika Komjen Budi Gunawan masih menjabat sebagai Wakapolri. Bahkan hingga kini setelah Budi Gunawan digeser menjadi Kepala BIN dan Komjen Syafrudin digeser dari posisi Wakapolri ke Menteri PAN RB, Tito belum bisa sepenuhnya mengontrol Polri.

Kita tunggu bagaimana perjalanan karir Andika, dan Maruli. Jika Jokowi terpilih kembali, dipastikan karir keduanya akan tambah moncer. Namun jika Jokowi kalah, mereka harus siap-siap parkir. Tentu sebagai konkuensinya mereka semua, termasuk para mertua harus kerja keras memenangkan Jokowi. Itu kalau mereka sadar harga yang harus dibayar, karena kembali membawa TNI ke arena politik praktis.

The End..!

PILIHAN REDAKSI