Pemuda yang Tak Dirindukan Syurga?

Oleh: Fauziah Ramdani

(Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya.”

(Terjemahan HR at-Tirmidzi; no. 2416) 

PEMUDA, sejak dahulu selalu menjadi topik yang menarik diperbincangkan, lekat padanya karakter dinamis, fleksibel dan rasa ingin tahu yang besar. Di sisi lain pemuda disebut sebagai generasi gemilang sebab jiwanya yang dikenal berani hingga terkadang mampu menembus batas pikir orang dewasa (baca: orangtua), terkesan irasional karena keyakinan besar pada suara hatinya, hingga bahkan harus menghiraukan resiko atau akibat besar yang mungkin saja terjadi jika salah langkah. Seperti pemuda yang disebut gagah berani, belum cukup usianya 25 tahun, tetapi cita-citanya seluas lautan, setinggi langit.

Bagaimana mungkin benteng besar lagi kuat Byzantium Konstantinopel Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad mampu ditembus Muhammad Al-Fatih (sang penakluk). Sebanyak empat juta prajurit mengempung Konstatinopel dari darat, mengepung benteng Bizantium hingga tidak sedikit yang berguguran,namun apakah sang pemuda mundur dari medan perjuangan? Tentu tidak, sebab Ia adalah pemuda tangguh yang menemukan ide ‘gila’ diluar logika, mencari cara agar bisa melewati pagar kokoh tersebut.

Al Fatih sang pemuda kuat Penakluk sejati, menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu dalam waktu yang begitu singkat,tidak sampai satu malam saja. Hingga di pagi hari Bizantium kaget luarbiasa, menyaksikan aksi Al Fatih bersama prajuritnya menyeberangkan kapal-kapal mereka melewati jalur darat. Membayangkan 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi, Tentu atas kuasa dan pertolongan Allah setelah kerja keras pemuda yang pantang mundur.

Namun, kini di zaman modern bukan perkara yang mudah menemukan pemuda-pemuda tangguh seperti Muhammad Alfatih yang kisahnya fenomenal, lahir dan tumbuh dengan energi iman yang kuat, hari-harinya dikuatkan dengan ibadah dan dzikir, tetapi tidak lupa untuk mengejar cita-cita dunia dan akhiratnya. Pemuda hari ini begitu mudah menyusun cita-cita ‘dunianya’ namun betap sukar menumbuhkan ambisi, cita-cita untuk kehidupan akhiratnya.

Sibuk dikelilingi oleh perkara yang melalaikan hubungan antara dirinya sebagai hamba dengan Allah Ta’ala Rabbnyaa, sibuk melegitimasi popularitas dan bersenang-senang demi menunjukkan eksistensi diri, sibuk mendiami café-café hingga larut malam dan begadang tanpa guna telah menjadi biasa, sibuk mengupdate gaya foto terbaru, hura-hura lepas kegelisahan hati diatas panggung musik, menari bersama, bergembira tiada batas lupa bahwa rupiah telah habis hanya untuk membeli dunia dan segala isinya yang fatamorgana.

Maka syetanpun semakin tertawa, konser musik impor yang dipentaskan serba mewah dan istimewa berlangsung dengan kebahagiaan padahal berapa rupiah yang harus dikeluarkan demi wajah impor yang disebut sebagai artis fenomenal lagi viral dari negeri gingseng itu datang dan menghibur kaum muda.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) manusia dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)(QS al-A’raaf: 16-17).

Syeitan bukan hanya tertawa menonton pemuda dengan kebiasaan hidup yang jauh dari nilai-nilai ibadah, akan tetapi juga semakin terus berusaha menghalang-halangi mereka yang disebut sebagai pemuda mukmin dikenal dengan ibadah dzahir dan batinnya yang kuat, bahkan justru disebut sebagai golongan penyeru agama Allah (aktivis dakwah) karena hidayah Allah pemuda ini mampu mengubah tatanan hidupnya menjadi lebih Islami, bukan sekadar status semata, Mereka beri’tikad menjadi pemuda yang dicintai Allah Karena iman dan islamnya yang lurus.

Akan tetapi sayang seribu sayang, pemuda tetaplah manusia biasa yang dhaif (lemah) hingga harus berhadapan dengan kondisi keimanan yang mengerdil manakala bersendiri dan mengganggap beberapa bentuk larangan dalam syari’at masih bisa dikompromikan, atau bahkan menjadi sangat ‘lucu’ manakala siap menjadi lilin bagi sekitarnya menerangi orang lain dengan dakwahnya, lalu lupa menerangi diri sendiri. Akhirnya  pemuda ini harus hidup dengan kegelapan,kemaksitan yang dilakukan saat menyendiri, tanpa ada yang mengetahui, saudara,teman dan lainnya.

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Syurga milik orang-orang yang beriman, yang imannya utuh tanpa rusuh, milik para pemuda yang hati dan pikirnya dekat dengan Allah, takut bermaksiat walau bersendiri, takut jikalau Allah menilainya sebagai orang-orang yang munafik, sebab manusia begitu memandang dirinya sebagai sosok penuh pekerti dan akhlak karimah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …” (HR. al-Bukhari :no. 1357 dan Muslim : no. 1031).

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya;

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah” (HR Ahmad (2/263)) Artinya: pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

Maka, sebuah doa yang terus mengalir tanpa batas, Allah menjaga kita menjadi sebaik-baik pemuda yang giat menanam kebaikan, menumbuhkan prestasi ibadah yang semurni-murninya Ikhlas lillah dan senantiasa lelah bermaksiat dihadapanNya baik sepi maupun ramai menemani. Wallahu’alam.

PILIHAN REDAKSI