Rendahnya Elektabilitas Ahok dan Potensi Kecurangannya

oleh : Dr. Slamet Muliono*

“Sentimen Anti-Ahok masih tinggi.” Demikian kesimpulan dari hasil penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny JA terkini. Hasil survei itu menunjukkan bahwa sentimen anti calon gubernur nomer urut 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), masih besar. Hal ini dinilai sebagian responden karena Ahok melakukan penistaan agama. Warga Jakarta beralasan tidak rela dipimpin terdakwa kasus dugaan penistaan agama.

Banner Utama
Dari sisi prosentase angka menunjukkan bahwa 60,4 persen responden menyatakan tidak rela jika gubernur terpilih DKI Jakarta terpilih adalah seorang terdakwa penista agama. Sementara yang rela dipimpin terdakwa hanya 17,8 persen, dan 21,8 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab. Sementara 26,4 persen menginginkan gubernur baru, 26,4 tetap ingin gubernur lama. Dan 15, 2 tidak tahu. (netralnews.com.17/1/2017)

Rendahnya Elektabilitas dan Kekhawatiran Umat Islam

Dari hasil survei LSI menunjukkan beberapa realitas yang menarik. Pertama, penolakan warga terhadap pemimpin yang menista agama. sebagai umat mayoritas dan menghormati Al-Qur’an, sudah sepantasnya menghindari pemimpin yang berani melecehkan agamanya. Terhadap agama saja berani menista, maka menistakan dan menghinakan masyarakat akan mudah dilakukan. Ahok bukanlah representasi pemimpin yang layak untuk memimpin tipologi masyarakat yang santun, baik dalam ucapan dan perilaku. Ketika pemegang amanah publik sudah mudah untuk menista agama kelompok mayoritas, maka akan mudah bagi dirinya untuk memanipulasi amanah milik piblik.

Kedua, keinginan warga untuk memilih gubernur yang baru. Hasil survei LSI di atas menunjukkan bahwa Ahok bukan tipologi pemimpin yang menjadi harapan masyarakat tetapi merupakan tipologi pemimpin yang memberikan harapan kosong untuk perubahan yang lebih baik. Di berbagai kesempatan, Ahok selalu dielu-elukan sebagai pemimpin yang bersih dan bekerja keras, tetapi kenyataannya, masyarakat justru memperoleh pemimpin yang baru. Pencitraanlah yang membuat Ahok dikenal sebagai gubernur yang bersih dan bekerja sungguh-seungguh. Padahal berbagai rapor yang ditunjukkan berbagai instansi yang dipimpin meunjukkan hal yang menyedihkan. Berbagai praktek korupsi yang ditunjukkan oleh lembaga resmi nagara, seperti Badan pemeriksa Negara (BPK) merupakan temuan yang sulit dibantah, termasuknya banyaknya anggaran yang dipergunakan untuk kepentingan non rakyat banyak dilansir oleh beberapa departemen pemerintahan di DKI Jakarta.

Ketiga, sekelompok masyarakat yang belum menentukan pilihan. Hal survei di atas menunjukkan bahwa sebagaian masyarakat tidak bisa berkata apa-apa alias tidak tahu atas apa yang dilakukan oleh Ahok. Tanpa memberi penilaian menunjukkan bahwa mereka kurang melihat hal-hal yang layak untuk dinilai. Andai mereka tahu hasil kinerjanya, maka jawaban tidak tahu tidak akan mungkin muncul. Jawaban tidak tahu merupakan tanda acuh tak acuh dan lemahnya harapan terhadap kinerja Ahok.

Pentingnya Menutup Pintu Kecurangan

Penolakan terhadap Ahok yang begitu tinggi tentu harus dibarengi dengan upaya untuk menutup kecurangan. Bukan tidak mungkin Ahok bisa memenangkan pertarungan dalam Pemilukada yang berlangsung di bulan Pebruari 2017. Berbagai cara akan ditempuh oleh Ahokers untuk memenangkan pertarungan. Pemihakan media mainstream dan kekuatan dana yang besar menjadi modal besar untuk menggerakkan berbagai komponen masyarakat yang bisa dimanfaatkan.

Media massa tidak bisa dipungkiri kedahsyatannya dalam menutupi kesalahan dan membenar-benarkan sesuatu yang salah. Media punya andil besar dalam memenangkan kelompok yang kalah dan mengalahkan kelompok yang menang. Betapa kagetnya ketika Hillary Clinton yang kalah oleh Donald Trump dalam merebut kursi kepresidenan, merupakan kontribusi media. Demikian pula bagaimana Ahok sebagai penista agama tidak diliput oleh media mainstream, tetapi justru para penyebar berita tentang penistaan agama yang dilakukan Ahok justru diuber-uber dan disalahkan media maintream,

Kekuatan dana yang demikian besar sangat mungkin menjadi batu sandungan bagi calon gubernur muslim. Kekuatan modal sudah terbukti bisa mengatur segalanya. Penista agama seperti Ahok sudah seharusnya ditahan dan segera diadili guna segera dipenjara. Namun kenyataannya, Ahok bisa berkeliaran bebas. Bahkan ada fakta baru yang menunjukkan ratusan profesor doktor berani menjadi penjamin agar Ahok tidak ditahan.masyarakat tentu wajar bila bertanya faktor apa yang membuat Ahok bisa bebas berkeliaran hingga ada sekelompok orang yang berani menjamin terhadap eksistensi Ahok.

Tidak ditahannya Ahok, setelah ditetapkan sebagai tersangka, menunjukkan betapa kekuatan media dan dana tidak bisa dibantah. Kalau penista agama sebelumnya segera ditahan dan akan dijebloskan ke dalam penjara dengan mudah, namun dalam kasus Ahok, sangat berbeda. Dalam kasus Ahok, bukan hanya lolos dari jeratan jeruji penjara, tetapi masyarakat yang dibuat resah dan pejabat negara dan pemimpin negara dibuat repot. Kekuatan besar yang berada di belakang Ahok merupakan kata kunci mengapa Ahok tidak segera ditahan.

Bukan tidak mungkin, untuk memenangkan pertarungan, tim Ahok akan melakukan kecurangan salah satunya adalah dengan “serangan fajar” atau mengerahkan massa eksternal, atau politik transaksional dengan pihak-pihak yang memiliki otoritas. Bukan tidak mungkin bahwa kubu Ahok akan mengumumkan kemenangannya sebelum pemungutan suara berakhir. Cara ini dilakukan agar ketika terbukti Ahok kalah, maka ada alasan untuk menuntut kepada lembaga pemilu guna mengusut kecurangan yang dilakukan oleh lawan politik.

Surabaya, 21 Januari 2017
*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya

PILIHAN REDAKSI