Masjid Negara Ini Jadi Bagian Sejarah Panjang Bangsa

JAKARTA (UMMAT pos) — Inilah masjid yang tak hanya menjadi kebanggaan warga Jakarta, namun juga bagi warga negara Indonesia. Mari sejenak kita kembali menyimak sejarah berdirinya masjid raya terbesar se asia tenggara yang akan menyelenggarakan Perayaan yang telah dimulai pada tanggal 10 Februari dan berakhir tanggal 28 Februari 2017 mendatang ini.

Terletak di Jl.Taman Wijaya Kusuma Kel. Pasar Baru, Kec. Sawah Besar Jakarta ini. Gedung Kementerian Agama disebelah Selatan dan Monumen Nasional (Monas) disisi Barat Daya dan di sebelah timur masjid tampak Gereja Katedral. Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Dimulai dengan terbentuknya Pengurus Harian Yayasan Masjid Istiqlal pada tanggal 7 Desember 1954, dengan Ketua Umum H. Anwar Tjokroaminoto. Pembentukan Yayasan Masjid Istiqlal merupakan kesepakatan dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 200 orang ulama dan tokoh-tokoh Islam seluruh Jakarta Raya di bawah pimpinan K.H. Taufiqurrahman (seorang tokoh Masyumi).

Pada 22 Februari 1955 diumumkan melalui surat kabar Sayembara Rencana Gambar Masjid Istiqlal. Ketua Panitia Sayembara ialah Mr. Assaat (mantan Presiden Negara Bagian RI yang berkedudukan di Yogyakarta, dulu Ketua Panitia Pembangunan Masjid Syuhada), dan Ketua Dewan Juri Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno. Pemenang pertama sayembara adalah arsitek Frederich Silaban (seorang Kristen Protestan), memakai sandi “Ketuhanan”. Pemenang kedua adalah R. Oetoyo, memakai sandi “Istighfar”. Pemenang ketiga adalah Hans Groenewegen dengan sandi “Salam”. Pemenang keempat dan kelima, masing-masing lima orang Mahasiswa ITB, memakai sandi “Ilham”, dan tiga orang Mahasiswa ITB, memakai sandi “Khatulistiwa”. Dewan Juri memutuskan karya arsitek Frederich Silaban sebagai pemenang, dengan catatan gambar tersebut harus disempurnakan.

Pemancangan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Presiden Soekarno dalam upacara resmi, pada hari Kamis tanggal 24 Agustus 1961. Pembangunan Masjid Istiqlal berjalan lambat dan terhenti sampai bergantinya pemerintahan Presiden Soekarno (orde lama). Panitia Pembangunan Masjid yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden RI beberapa kali diganti. Pada tahun 1969 bangunan masjid masih merupakan pilar-pilar beton yang tegak berdiri tanpa atap. Proses Pembangunan Masjid Istiqlal dilanjutkan kembali pada masa pemerintahan orde baru. Presiden Soeharto turun tangan selaku Ketua Penyantun Masjid Istiqlal dengan menyediakan anggaran pembangunan sejak Pelita I hingga Pelita II.

Peresmian penggunaan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978. Sebelum peresmiannya, untuk pertama kalinya Presiden Soeharto bersama para menteri dan ribuan umat Islam di Jakarta telah melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal pada tanggal 30 November 1970 (1 Syawal 1390).

Lokasi kompleks masjid ini berada di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang ditengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas). Di seberang timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid.

Daya tampung masjid bisa mencapai 200 ribu orang, yang terdiri atas ruang salat utama dan balkon serta sayap: 61.000 orang. Ruang pada bangunan pendahuluan: 8.000 orang. Ruang teras terbuka di lantai 2: 50.000 orang. Semua koridor dan tempat lainnya: 81.000 orang.

Dalam rangka penyelenggaraan, pengelolaan dan pemanfaatan Masjid Istiqlal, Presiden Soeharto membentuk Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) melalui Kepres dimana Menteri Agama sebagai Ketua, dengan 4 orang anggota terdiri dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Sekretaris Menteri Sekretariat Negara, Ketua Majelis Ulama Indonesia dan Gubernur DKI Jakarta. Dalam pelaksanaan tugasnya BPMI membentuk Badan Pelaksana Pengelolaan Masjid Istiqlal (BPPMI) dengan masa jabatan 5 tahun dalam satu periode dan bertanggungjawab langsung kepada Menteri Agama. Dalam pelaksanaan peribadatan, Masjid Istiqlal dipimpin oleh seorang Imam Besar yang ditetapkan oleh Menteri Agama. Sejak tahun 2016 hingga 5 tahun kedepan, Imam Besar Masjid Istiqlal dipercayakan kepada Prof.Dr. H. Nasaruddin Umar, MA dengan wakilnya Drs.H.Syarifuddin Muhammad, M.Si.

Selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik, dan sebagian wisatawan asing yang beragama Islam. Sering kali Masjid Istiqlal mendapat kunjungan dari tamu-tamu negara mulai dari Presiden, Pedana Menteri sampai dengan para Duta Besar negara-negara sahabat. Masyarakat non-Muslim secara umum juga dapat berkunjung ke masjid ini setelah sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, meskipun demikian bagian yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan harus didampingi pemandu.

Sumber: Arsip Kemenag

PILIHAN REDAKSI