Fenomena Ernest dan Ahok …

Oleh Farid Nu’man Hasan

SEMAKIN banyak orang yang mengolok-olok Islam dan kaum muslimin, mulai dari mengolok-olok Allah, Rasulullah, dan kitab suciNya.  Ada yang terang-terangan, ada yang sembunyi-sembunyi, dalam setahun bisa terjadi berkali-kali.

Berkali-kali pula umat Islam marah tapi tidak berdaya, apalagi ada komentar,  “santai bro, Islam itu damai, Islam itu Rahmatan lil ‘alamin, Islam itu tidak mudah kepancing, hati-hati sumbu pendek” yang datangnya dari orang-orang yang sok menjadi begawan dan negarawan.

Akhirnya, lengkap sudah penderitaan umat Islam, agama diolok-olok, selesaikan dengan diam saja, lalu simpan dihati,  dan bawa masuk ke lubang kubur.

Ernest tidak sendiri, Ahok juga, mereka masih satu puzzle besar  “wa lan tardha ‘ankal yahuudu walan nashaara hatta tattabi’a millatahum …”

Sehingga umat Islam seharusnya sudah paham hal ini, tidak usah heran.  Masih banyak Ernest dan Ahok yang lain, karena mereka tahu umat Islam hari ini adalah buih, mayoritas tapi tidak ada wibawa, tunggu saja pasti ada lagi dan lagi.

Mereka tahu umat Islam sedang sibuk dengan urusan yang tidak penting, sibuk mendebatkan bumi datar atau bulat.

Atau masih mengungkit perdebatan belasan abad lamanya tentang qunut shubuh, tawassul kepada nabi sesudah wafatnya, ushalli dan tidak ushalli, maulid dan anti maulid sampai berdarah-darah, memfasikkan, membid’ahkan, bahkan mengkafirkan. Puas rasanya jika sudah berhasil menyebut kafir kepada sesama muslim.

Lelah, capek, bosan, muak melihat sebagian da’i senang menguliti lagi luka lama yang telah mengering. Luka yang dulu sempat membuat sebagian ulama dikafirkan, dipenjara, difitnah, oleh kelompok lainnya, lalu fitnah itu dihidupkan lagi

Akhirnya, manusia semodal Ernest dan Ahok, semakin berani, semakin banyak karena mereka tahu bahwa umat Islam bagaikan nenek tua yang bersolek menghilangkan keriput tapi kamarnya sedang terbakar api besar.

Atau bagaikan dokter yang lebih sibuk menyembuhkan penyakit kulit yang diderita pasien, padahal pasien tersebut sedang terserang stroke.  Sibuk dengan urusan furu, tapi lupa yang ushul padahal nyawamu terancam!

Kami teringat dengan nasihat Syaikh Abdullah ‘Azzam, dalam salah satu seri Tarbiyah Jihadiyahnya,  Dia menasihati mujahidin yang berasal dari Arab Saudi, agar tidak memaksakan fiqih Hambali kepada mujahidin asli Afghanistan yang Hanafi. Sebab, “ Aku khawatir moncong senjata kalian bukan ke arah Uni Soviet tapi ke sesama mujahidin!”

Maka, fokuslah terhadap makar musuh-musuh Islam,  mereka itu musuh kita, sementara yang ini saudara. Jangan sampai salah memetakan lawan dan kawan, sebab itu kekalahan awal perjuangan. Wallahu A’lam

PILIHAN REDAKSI