Kita dan Politik Kaum Muslimin Indonesia

Mas’ud Abu Abdillah

SEBAGAI agama yang penuh rahmat dan nilai-nilainya merupakan solusi kebangsaan & kemanusian, Islam sering disalahfahami. Tak terbantahkan juga adanya upaya agar agama ini dijauhkan dari struktur politik kenegaraan resmi. Keterlambatan ummat di bidang ekonomi, media, politik itu bukan tidak ada sebabnya.  Diantaranya sikap kurang tepat kita dalam waktu sangat lama.

Dengan tenang bisa saya katakan, setelah faktor aqidah & ketauhidan yang perlu diperbaiki dan dimurnikan.  Sebab-sebab praktis lain yang menyebabkan nilai-nilai Islam terpojokkan ke ruang gelap dari politik Indonesia selama 70 tahun lebih adalah:

1. Kaum muslimin yang terjun ke politik tapi melupakan baju ideologi nya, Islam sekadar dijadikan simbol dan dagangan tapi partainya sama sekali tidak peduli dengan nilai-nilai Islam.

2. Kelompok masyarakat muslim yang merasa bahwa agama itu sekedar identitas dan urusan pribadi saja. Tertipu jargon pluralitas dan inklusifitas. Benar-benar kesulitan mengaitkan politik dengan urgensi nilai keagamaan.

3. Kelompok agamis yang kekeuh tidak mau melihat realitas. Gagap dan kesulitan membedakan antara berdemokrasi sebagai sistem yang diridhoi (musyrik) dengan mengupayakan perbaikan  (tanpa keridhoan- ini dibolehkan) sebagaimana fatwa para ulama.

Tiga tipikal yang ada di tubuh umat itu jika belum akut bisa disadarkan, tapi jika sudah akut maka dilupakan saja. Bangun generasi baru yang lebih bisa belajar dari pengalaman perjalanan bangsa ini, menggabungkan antara keilmuan, ketakwaan dan memperhatikan realitas dalam batas syar’i arahan para ulama.

Tak perlu banyak berdebat, teruslah jalan saja. Biarlah Allah Ta’ala yang diharap pertolongan-Nya. Karena sungguh ada diantara manusia yang hanya bisa sadar saat perahu akan tenggelam. Dan juga ada yang baru menyadari benarnya sebuah pendirian saat melihat hasil yang gemilang.

Ya, mungkin bisa disebut membangun genarasi alfatih  di era milenium.  Kokoh dalam keimanan, keilmuan, fisiknya siap berjihad tapi juga penguasanya terhadap tabiat zaman cukup bagus serta memperlakukan zaman itu dengan tepat sesuai kaidah syar”i.  Wallohu a’lam