Benang Merah Antara Penyimpangan Seksual, Seks Bebas dan Narkoba itu Bernama Hedonisme

Muhammad Yusuf Adifitrah

DUA kasus kejahatan yang sedang marak diberitakan: Penculikan Anak dan Pedofil. Sesungguhnya benang merahnya sudaht jelas. Perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba juga sudah sangat jelas benang merahnya. Ada motif bisnis yang menjadi bahan bakarnya. Ini bukan karena alasan faktor tuntutan kebutuhan hidup, melainkan dominan karena kesenangan hidup, ini tentang hedonisme.

Berbicara tentang hedonisme berarti sedang membicarakan tentang kehidupan dunia. Obrolan tentang kehidupan dunia berarti bahas soal kesenangan semu (nisbi) yang sementara. Semua orang juga tahu bahwa dunia ini adalah sementara dan sebentar saja. Tetapi tidak semua orang percaya bahwa sesudah kehidupan dunia ini akan ada kehidupan akhirat, tempat menerima balasan hidup yang kekal, di surga maupun di neraka. Kepercayaan itu hanya dibawa oleh agama, di sana dibahas lengkap tuntunan dan cara mendapatkan kebahagiaan hakiki di surga.

Bagi mereka yang tidak percaya agama; pastinya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus menerima hedonisme sebagai ideologi dan tujuan puncaknya; entah ia orang baik ataupun orang jahat. Bila ia orang jahat, ia akan menempuh cara apapun dalam mencari kesenangan. Yang penting happy. Toh hidup ini sementara, mumpung masih hidup, puas-puaskan diri menikmati apa saja yang menyenangkan. Termasuk seks bebas dan narkoba.

Sehat tidak sehat, toh semuanya akan mati. Bila ia orang “baik”, mungkin ia akan mengkampanyekan “gaya hidup sehat”, mencintai keluarga dan hidup damai dengan sesama. Tapi kalau ditanya, untuk apa semua itu, jawabannya tentu saja untuk bahagia di dunia.

Maka selama hal itu tidak membahayakan atau mengganggu kebahagiaan orang lain, mari kita nikmati bersama hidup ini. Itulah hakikat hedonisme, yang dianut oleh orang yang “baik” maupun jahat. Maka wajarlah bila seks bebas pun merajalela yang akhirnya sampai melegalkan homoseksual (LGBT). Bahkan narkoba pun sudah menjadi bagian dari bisnis besar kehidupan.

Jangan heran bila suatu saat pedofil terpaksa dilegalkan atau paling tidak “dirawat” dengan cara yang “aman” supaya tidak mengganggu stabilitas sosial dan kesehatan masyarakat. Demikianlah hakikat kehidupan yang jauh dari agama pasti akan jatuh ke dalam hedonisme. Semua ideologi ciptaan manusia, entah itu atheisme, komunisme, liberalisme, materialisme, spiritualisme, sekularisme, dan lain-lain; tidak bisa tidak, pasti berujung pada Hedonisme. Itulah sebabnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ketika terompet kiamat sudah hendak ditiup, ketika manusia sudah tidak mengenal agama, orang-orang berzina di tengah jalan ramai.

Kesimpulannya agama hilang, hedonisme berkembang. Berbicara tentang agama, berarti berbicara tentang Islam, sebagai satu-satunya agama yang bersumber dari Tuhan Pencipta alam semesta dan manusia. Dengan aqidah yang jelas dan syariat yang tegas, ia menjadi musuh hedonisme. Maka Iblis dan para pengikutnya yang memunculkan sistem Dajjal dan para tentaranya; menjadikan Islam sebagai musuh yang digempur habis-habisan. Puncaknya sudah semakin dekat di akhir zaman ini, ketika ajaran Islam sudah dirusak dengan berbagai aliran sesat ciptaan yahudi (syiah) dan kaum muslimin sudah dibantai di pusatnya (Timur Tengah) oleh koalisi salibis-syiah; sebentar lagi engkau akan melihat peperangan besar (Malhamah Kubra) antara al-Haq yang dipimpin oleh al-Mahdi dan al-Bathil yang dipimpin oleh Dajjal. Bersiaplah!