Bolehkah Berdo’a dengan Bahasa Selain Bahasa Arab di Dalam Sholat?

Tanya:

Bolehkah berdo’a dengan bahasa selain bahasa Arab di dalam sholat?

Jawaban:

1. Bila seseorang mampu berdo’a dengan bahasa Arab, maka ia tidak boleh berdo’a dengan bahasa selain bahasa Arab.

2. Bila ia tidak mampu berdo’a dengan bahasa Arab,  maka dia boleh berdo’a dengan bahasa apapun yang dikuasainya. Sambil terus mempelajari bahasa arab.

Adapun berdo’a dengan bahasa selain bahasa Arab di luar shalat, maka tidak mengapa. Hal seperti ini sama sekali tidak masalah. Apalagi bila ia berdo’a dengan (bahasa yang difahaminya tersebut) semakin menambah kehadiran hatinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

والدعاء يجوز بالعربية ، وبغير العربية ، والله سبحانه يعلم قصد الداعي ومراده ، وإن لم يقوِّم لسانه ، فإنَّه يعلم ضجيج الأصوات ، باختلاف اللغات على تنوع الحاجات

“Adapun berdo’a diperbolehkan dengan bahasa Arab dan bahasa selain Arab. Allah subhanahu wa ta’ala tentu saja mengetahui setiap maksud hamba walaupun lisannya tidak bisa mengutarakan maksudnya. Allah Maha Mengetahui setiap do’a dalam berbagai bahasa apapun itu dan Dia pun Maha Mengetahui setiap kebutuhan yang dipanjatkan”

Majmu’ Al Fatawa, 22/489

Tidak mengapa berdo’a dengan do’a-do’a yang tercantum di dalam Al-Qur’an meskipun tidak tercantum di dalam As-Sunnah. Dan dalam setiap do’a itu ada kebaikan dan petunjuk.
Kebanyakan do’a para nabi dan Rasul alaihimussalam kita ketahui dari Al-Qur’an. Dan tidak diragukan lagi bahwa do’a-do’a mereka adalah sebaik-baiknya do’a dan memiliki keagungan serta makna yang luar biasa.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وينبغي للخلق أنْ يدْعوا بالأدعية الشرعيَّة التي جاء بها الكتاب والسنة ؛ فإنَّ ذلك لا ريب في فضله وحُسنه وأنَّه الصراط المستقيم ، وقد ذكر علماءُ الإسلام وأئمَّة الدين الأدعيةَ الشرعيَّة ، وأعرضوا عن الأدعية البدعية فينبغي اتباع ذلك.

Sudah sepatutnya setiap hamba berdo’a dengan do’a yang syar’i yang disebutkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Karena do’a yang berasal dari keduanya tidak diragukan lagi keutamaannya dan kebaikannya. Dan bahwa do’a-do’a tersebut merupakan jalan yang lurus.
Para ulama serta para imam kaum muslimin telah menyebutkan berbagi do’a yang disyariatkan, mereka enggan terhadap do’a-do’a yang diada-adakan. Maka hendaklah kita mengikuti cara mereka tersebut.

Majmu’ Al Fatawa, 1/346.

Wallahu a’lam

(Syekh Sholeh Al-munajjid حفظه الله)

PILIHAN REDAKSI