Jumlah Rokaat Taroweh Tidak Dibatasi (Fikih Ramadhan 1)

Perlu diketahui bahwa ribut mempermasalahkan jumlah rokaat tarowih sama sekali tidak diperlukan, karena menurut pendapat yang paling rajih (diunggulkan) bahwa jumlah rokaat tarowih adalah tidak dibatasi jumlahnya. Memang ada riwayat yang menyebutkan tentang jumlah tertentu tetapi itu bukan lah batasan, karena dijumpai juga Nabi mengerjakannya dengan jumlah yang lain.

Contoh dalil yang paling tegas dan shahih adalah hadits Aisyah berikut:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Tetapi para ulama faham bahwa itu hanya salah satu rokaat yang dilihat dan diketahui oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan dalam hadits lain beliau melakukan 13 rokaat, walaupun sebagian ulama mengatakan yang 2 rokaat adalah sholat pembuka yang dikerjakan secara ringan,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764).

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70).
Pendapat ini sejalan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak membatasinya.

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beberapa Pendapat Dan Praktek Shalat Taroweh:

Pendapat pertama, yang membatasi hanya sebelas raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.

Pendapat kedua, shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.
Al Kasaani mengatakan, “’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”

Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”

Pendapat ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)

Pendapat keempat, shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267)

Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at atau bahkan lebih. Dan tidak mengapa pula setelah shalat taroweh di masjid lalu malamnya shalat lagi di rumah, boleh memilih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (11) dengan berdiri agak lama, dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama. Intinya  makin panjang bacaannya (makin lama berdirinya) itu makin baik, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)

Yang Terlarang bahkan diharamkan adalah shalat dengan bercepat-cepat dan ngebut hingga meninggalkan thuma’ninah (berhenti sesaat pada suatu gerakan sholat), karena thuma’niinah ini termasuk rukun menurut pendapat yang kuat, yang mana yang meninggalkannya maka sholatnya tidak sah. Jadi jika melakukan rokaat yang banyak tetapi awut-awutan dan ngebut tidak thuma’niinah maka lebih baik rokaat lebih sedikit tetapi khusyu’ dan tuma’niinah. Alangkah bagusnya jika mampu banyak dan bacaannya panjang-panjang dan sangat khusyu’ sebagaimana yang sering kita saksikan di masjidil harom.

 

PILIHAN REDAKSI