Dirjen Lapas Kagum Ada “Kamar Khusus” Buat Istri Napi Di Saudi Arabia

JAKARTA (UMMAT POS)– Pengalaman Dirjen Pemasyarakatan Kementrian Hukum dan HAM I Wayan Dusak berkunjung ke lapas di Saudi Arabia diungkapkan dalam acara diskusi di kantornya hari ini, Rabu 22 April 2017.

Awalnya Wayan Dusak menduga banyak pelanggaran HAM di penjara negara Islam sebagaimana informasi dari media barat yang ia akses selama ini. Tetapi setelah melihat sendiri lapas di Arab Saudi penilaiannya berubah 180 derajat.

Ia mengaku sangat kagum dan menilai lapas di Arab Saudi jauh lebih baik dibanding Indonesia jhususnya dalam pemenuhan hak asasi manusia para narapidana.

“Di banding Indonesia mereka lebih memenuhi HAM” tuturnya.

Salah satu yang dia bilang Indonesia belum sanggup meniru adalah adanya bilik asmara sebagai pemenuhan hak istri para napi untuk mendapatkan hak biologisnya. Selain kurang fasilitas juga belum ada undang-undang yang memayungi, serta SDM kita belum siap. “jangan sampe malah jadi mucikasi semua” ucapnya.

Sekelumit Penjara Saudi Arabia

Kontributor UmmatPos menelusuri informasi tentang apa yang disampaikan oleh Dirjen Pemasyarakan diatas, dan ternyata banyak perbedaan penjara disana dengan di indonesia.

Di Saudi ada semacam adagium yang selalu dipublikasikan yaitu “Keluarga Terpidana Tidaklah Bersalah”, konsekuensinya harus ada upaya untuk meminimalisir dampak negatif fisik maupun psikis saat kepala keluarga menjalani hukuman penjara. Dan diantara bentuknya adalah:

Pertama: Adanya kunjungan keluarga

Sebagaimana di Indonesia, bedanya adalah disana untuk keluarga yang jauh disediakan Syuqqoh (semacam rumah singgah atau apartemen) untuk tinggal atau transit keluarga yang jauh beberapa saat.

Kedua: Adanya “kunjungan khusus” istri napi.

Sudah menjadi standar penjara disediakana Ghurfah Kholwah Syar’iyyah (kamar khusus berduaan suami istri) atau di Indonesia disebut bilik Cinta. Dari penelusuran wartawan maupun cerita yang mengalami, Kamar ini disiapkan dengan bentuk mirip kamar hotel, ruangan sangat bersih dan tersedia handuk dan segala perlengkapan mandi, serta privasi yang sangat baik. Kamar-kamar tersebut diurus, dibersihkan, diganti sprei dan perlengkapan kamar mandinya oleh petugas khusus (rata-rata tenaga asing dari Asia) sebagaimana layaknya petugas hotel.

Kesemuanya bertujuan untuk menjamin bahwa istri narapidana (dan juga napi) tetap mendapatkan hak biologisnya. Dan sangat biasa disana ketika suami dipenjara 7 tahun anak bertambah dua. Hanya saja memang catatan admisnistrasi disana sangat rapih tidak memungkinkan yang bukan istrinya bisa masuk. Jangankan di penjara di hotel pun aturan tidak boleh menginap satu kamar kecuali istrinya sudah berjalan berpuluh tahun lalu.

Ketiga: Tunjangan Bulanan

Pemerintah mengalokasikan tunjangan kepada setiap napi warga negara Saudi kisaran 2000 – 3000 SR (kurs sekarang 1 SR= 3500 rupah, sekitar 7 -9 juta rupiah), jumlah yang relatif kecil untuk ukuran Saudi, yang tujuannya agar kebutuhan alakadarnya keluarga napi bisa terpenuhi. Minimal kebutuhan makan, minum dan kebutuhan pokok lainnya, karena pendidikan dan biaya kesehatan seluruh warga Saudi gratis.

Sebab belum mampunya Indonesia membuat “bilik cinta” menurut Dirjen Kemasyarakatan I Wayan Dusak dikarenakan banyak sekali kendala,  dari kemampuan finansial, mentalitas petugas, bahkan perundangannya pun belum ada.

Upaya menjaga agar terpenjaranya napi yang merupakan sanksi atas pelanggaran serta upaya memberi pelajaran kepadanya, seharusnya jangan sampai berdampak negatif atau terlantarnya istri dan anak-anaknya yang jumlahnya jauh banyak dibanding napi itu sendiri. Dan itu hanya mampu dilakukan oleh negara yang kuat.

Dan kunjungan tersebut mengungkap bahwa media barat lagi-lagi kurang adil dalam memberitakan hal-hal yang berakitan dengan Islam dan negara-negara yang dianggap mewakili Islam, sedikit maupun banyak.

PILIHAN REDAKSI