Titik Nol, Sindiran Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Lewat Pantun, Siapa yang Dimaksud?

BANDA ACEH (UMMAT Pos) — Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA menyentil soal penetapan Barus sebagai titik nol Islam Nusantara melalui pantun jenaka dalam sambutannya pada pembukaan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni, dan Riset (PIONIR) VIII, di kampus itu, Rabu (26/4).

“Daerah Aceh tanah bertuah, tidak pernah dijajah oleh Belanda. Daerah Aceh bumi syariah, di sini tempat Islam pernah berjaya. Dari Aceh Islam disebarkan, ke setiap kawasan di Nusantara. Dulu Aceh titik nol Islam, sekarang dipindahkan ke Sumatera Utara,” kata Farid dan melanjutkan beberapa bait pantun penutupnya.

Pantun tersebut disambut antusias para tamu/undangan yang hadir, tepuk tangan, dan teriakan serta gelak tawa terdengar. Bahkan, seusai Farid menutup sambutannya, sejumlah orang dari atas tribun meneriakkan namanya. “Farid, Farid, Farid,” teriak sejumlah orang sembari bertepuk tangan.

Untuk diketahui, pada Jumat 24 Maret 2017, Presiden Joko Widodo menetapkan Titik Nol Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dulunya, kawasan itu dinamakan Fansyur, penghasil kapur barus (kamfer) yang diekspor hingga ke Mesir.

Penetapan itu memunculkan ragam komentar. Sejumlah kalangan di Aceh bereaksi, banyak pihak tak setuju Barus ditetapkan sebagai tempat bermulanya Islam di Nusantara. Mereka menganggap Acehlah yang lebih pantas untuk dinobatkan sebagai titik nol Islam, karena menurut sejarah, melalui Aceh Islam masuk, lalu berkembang di Nusantara. Malah ada ilmuwan yang menulis buku dengan judul Dari Sini Ia Bersemi, maksudnya dari Acehlah risalah Islam bersemi ke berbagai penjuru Nusantara, dibawa oleh pedagang asal Gujarat, India.

Tampaknya, pantun jenaka tersebut sengaja dipersiapkan Farid untuk dibacakan di hadapan Menag Lukman Hakim Saifuddin. Pantun yang seolah ingin mengungkapkan kekecewaan masyarakat Aceh karena ditetapkannya Barus sebagai titik nol Islam Nusantara itu, ditulis tangan oleh Farid pada selembar kertas.

Mengutip laporan Serambi, seusai acara pembukaan acara PIONIR, melalui wawancara singkat bersama Menag,  Lukman hakim mengatakan, “Saya meyakini tentu ada pertimbangan-pertimbangan di balik kebijakan ini. Karenanya, saya ingin mengajak kita semua untuk lebih mengedepankan positive thinking, husnuzon (berpikiran positif).”

Menteri Agama juga mengajak masyarakat Aceh untuk mengambil hikmah dari kebijakan tersebut. Lukman Hakim yakin, pasti ada hikmah di balik itu semua yang saat ini belum terlihat bagi masyarakat Aceh semuanya. “Mudah-mudahan suatu saat kita bisa menangkap hikmah. Seperti tsunami, siapa yang mengira, itu musibah yang luar biasa tapi ternyata membawa anugerah bagi masyarakat Aceh dan Indonesia,” timpalnya.

Menjawab pertanyaan apakah penetapan Barus sebagai titik nol Islam Nusantara itu sudah ditinjau secara historis seiring dengan berkembangnya Islam di Indonesia pada masa lampau, Lukman tampak tak begitu tahu persoalan ini. “Saya tidak terlalu mendalami itu, tapi yang jelas mari kita sama-sama mengedepankan sisi positif dari sebuah takdir yang ada pada diri kita,” pungkas Lukman Hakim, lalu bergegas meninggalkan tempat berlangsungnya pembukaan PIONIR VIII. (dan/serambi/tribun)

PILIHAN REDAKSI