Habib Rizieq dibilang “Mangkir” Dipanggil Jadi Saksi, Bagaimana Logika Hukumnya?

JAKARTA (UMMAT Pos) — Dalam acara Kompas Petang, Penasehat hukum Habib Rizieq Syihab (HRS), Kapitra Ampera dicecar sejumlah pertanyaan oleh host Kompas TV, diantara pertanyaan yang diajukan seputar mengapa HRS tidak memenuhi panggilan polisi untuk dimintai keterangan sebagai saksi? Penasehat hukum pun menerangkan kemana dan sedang apa HRS selama ini.
Dalam keterangannya Kapitra juga menilai kasus rekayasa yang mencoba untuk menjerat Habib Rizieq cukup aneh, karena menurutnya yang lebih berhak diperiksa terlebih dahulu adalah penyebar chat tersebut untuk diperiksa kebenaran dan juga motifnya.
Pihak HRS bersama penasehat hukumnya pun mengaku tidak mengetahui dan membantah sebagai pelaku dalam fitnah yang dijadikan pegangan oleh fihak kepolisian, suara dan gambarnya tidak ada, keaslian chatnya juga diragukan bahkan dikatakan palsu oleh sebagian ahli IT, lalu mengapa HRS yang buru-buru diperiksa?

BACA JUGA: MUI Minta Polisi Tak Perlakukan Habib Rizieq Syihab Bak Penjahat

Untuk diketahui bahwa dalam Pasal 1 butir 26 dan 27 KUHAP diatur mengenai pengertian Saksi serta Keterangan Saksi.

Pasal 1 butir 26 KUHAP menyatakan:
“Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan alami sendiri.”

Pasal 1 butir 27 KUHAP menyatakan:
“Keterangan Saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri dan alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.”

Dengan demikian, seseorang berhak untuk menolak menjadi saksi untuk sebuah kasus pidana yang ia tidak dengar sendiri, lihat sendiri dan alami sendiri.

Namun, bila pemanggilan terhadap saksi itu tetap dipaksakan, maka hal tersebut menunjukkan bahwa saksi itu memang ditarget untuk ditahan dan dijadikan tersangka, terdakwa dan terpidana. [AH]

 

PILIHAN REDAKSI